IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

  1. PENDAHULUAN

Di era globalisasi yang sarat akan perubahan dan perkembangan telah banyak mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Perkembangan yang luar biasa cepat terjadi di berbagai bidang. Bidang-bidang tersebut misalnya sosial, ekonomi, kesehatan, dan tak tertinggal adalah bidang pendidikan. Perkembangan yang dialami oleh berbagai bidang tersebut tidak dapat dipungkiri salah satu penyebabnya adalah terjadinya perkembangan Ilmu pengetahuan dan Tekonologi (IPTEK).

Teknologi informasi merupakan sebutan lain dari teknologi komputer, yang dikhususkan untuk pengolahan data menjadi informasi yang bermanfaat baik untuk individu maupun untuk kelompok atau organisasi. Organisasi yang begitu banyak jumlahnya di Indonesia dan berbagai bidang juga banyak menerapkan teknologi informasi untuk mengefektifkan serta mengefisiensikan kinerja organisasi. Salah satu organisasi yang banyak memanfaatkan dan menerapkan teknologi informasi adalah organisasi pendidikan.

Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan teknologi informasi, sekolah-sekolah di Indonesia sudah waktunya mengembangkan Sistem Informasi manajemennya agar mampu mengikuti perubahan jaman.

Dalam makalah ini, akan dibahas hal-hal sebagai berikut: (A) Gelombang inovasi teknologi, (B) Menyambut teknologi informasi dalam dunia pendidikan, (C) Model pembelajaran dengan e-learning, (D) Sinergi positif dan negatif sistem informasi dan strategi pendidikan, (E) Pendekatan human-centered dalam manajemen pendidikan, dan (F) keamanan sistem informasi, moral, etika, dan hukum teknologi informasi.

 

 

 

  1. PEMBAHASAN
    1. GELOMBANG INOVASI TEKNOLOGI

Di era globalisasi ini, teknologi berkembang dengan sangat cepat. Salah satunya adalah teknologi informasi. Teknologi informasi bisa dikatakan sebagai salah satu unsur penting yang dapat mendorong keunggulan bersaing sebuah organisasi. Hal ini banyak diyakini karena terdapat anggapan bahwa suatu organisasi yang menguasai teknologi informasi maka organisasi tersebut memenangkan persaingan. Anggapan semacam itu didukung oleh sejumlah fakta yang menyebutkan beberapa keuntungan yang ditawarkan teknologi informasi bagi sebuah organisasi. Keuntungan diterapkannya teknologi informasi di sebuah organisasi antara lain, pimpinan organisasi dapat mengambil keputusan lebih cepat karena informasi yang didapatkan juga lebih cepat sampai, organisasi dapat menyimpan dokumen sengan jumlah yang sangat banyak tetapi tidak membutuhkan tempat yang luas karena disimpan di dalam memory computer, lebih praktis, file/dokumen dapat tersusun secara rapi, dan masih banyak keuntungan yang lain.

Selain berbasis komputer, teknologi informasi juga berbasis internet. Menurut Budi Sutedjo dalam (Rochaety, 2005:74), gelombang teknologi informasi yang berbasis internet berkembang melalui beberapa tahap sebagai berikut:

  1. Gelombang pertama, Pemanfaatan TI difokuskan untuk peningkatan produktivitas dan memperkecil biaya.
  2. Gelombang kedua, TI difokuskan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan peralatan komputer melalui pembangunan jaringan komputer. Jaringan ini dibangun dengan cara menghubungkan komputer-komputer dengan menggunakan kabel dan kartu jaringan sehingga printer, harddisk, dan peralatan lain dapat digunakan secara serempak. Jaringan ini dapat menghemat biaya investasi dan mempercepat distribusi data dan infomasi.
  3. Gelombang ketiga, TI difokuskan untuk menghasilkan keuntungan lewat pembangunan program sistem informasi. Contoh pembangunan jaringan sistem informasi pelayanan administrasi akademik di universitas, sistem informasi pelayanan umum, dan lain sebagainya.
  4. Gelombang keempat, TI difokuskan untuk membantu proses pengambilan keputusan dari data kualitatif (DSS/Decision Support Sistem) misalnya untuk penerimaan pegawai, penilaian prestasi pegawai, dan lain sebagainya.
  5. Gelombang kelima, TI difokuskan untuk meraih pelanggan melalui pengembangan jaringan internet. Membangun eksplorasi besar-besaran terhadap internet. Dalam dunia bisnis biasa disebut dengan e-bussiness dan e-commerce. Bila di dunia pendidikan biasa dikenal dengan e-learning, e-campus, dan e-school.
  6. Gelombang keenam, TI mengembangkan sistem jaringan tanpa kabel (wireless). Sistem tersebut memungkinkan seseorang mengakses internet melalui computer yang terhubung dengan telepon seluler bahkan internet dapat diakses langsung lewat ponsel. Gelombang inovasi ini menunjukkan bahwa TI dapat digunakan untuk komunikasi efektif dengan konsumen dan mitra kerjanya.

 

Menurut Kenneth Promozic dalam (http://jsofian.wordpress.com /2009/05/06/tahapan-gelombang-inovasi/) gelombang inovasi teknologi  di bagi  dalam beberapa tahapan yaitu:

  1. Reducing cost: Pertimbangan dalam tahapan ini, teknologi informasi dikaitkan dengan urusan administratif yang bertujuan mengurangi biaya. Contohnya penggunaan komputer sebagai pengganti mesin tik. Komputer jauh lebih unggul dibandingkan dengan mesin tik ditinjau dari kecepatan, kerapian, penggunaan kertas, dan sebagainya. Selain itu juga komputer dapat menyimpan data dalam bentuk softcopy yang lebih tahan lama dibandingkan kertas secara fisik. Perusahaan menitikberatkan pada perspektif efisiensi (cheaper, faster, and better) dalam aktivitas sehari-hari.
  2. Leveraging Investment: tahapan kedua, teknologi informasi dipandang sebagai aset yang menguntungkan dibandingkan dengan teknologi serupa atau dengan kata lain memiliki value added Perbandingan ini diukur dari segi keuangan, misalkan pengiriman surat dengan email  jauh lebih murah dibandingkan dengan pengiriman surat secara manual yang membutuhkan waktu lebih lama dan mahal atau  sama halnya dengan komunikasi menggunakan telephone untuk interlokal atau internasional jauhh lebih mahal jika dibandingkan berkomunikasi melalui chatting atau internet (VOIP).
  3. Enhancing products and services: tahapan ketiga terjadi ketika sebuah teknologi dapat memberikan kontribusi signifikan dalam proses penciptaan produk dan jasa, sehingga menambah nilai dan kualitas dari produk dan jasa yang ditawarkan. Ukuran yang sering digunakan adalah perubahan dalam  market share. Sebagai contoh adanya dengan adanya call center secara online bagi para pelanggan yang ingin menyampaikan komplain atau menanyakan informasi tentang produk dan jasa yang ditawarkan. Fasilitas ini tentu saja menjadi faktor penentu ketika para pelanggan membeli produk dan jasa.
  4. Enhancing executive decision making: seiring dengan perkembangan perusahaan dan dinamika pasar, maka top manajemen  perusahaan membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dan berkualitas. Kecepatan proses pengolahan data menjadi informasi dan terakhir menjadiknowledge merupakan  faktor yang fundamental untuk tetap unggul di kancah persaingan. Oleh karenanya perusahaan mulai  menerapkan konsep manajemen modern untuk memperbaiki kinerja perusahaan  sepertibusiness process reengenering, balanced scorecard, six sigma, total quality management, dsb. Peranan teknologi infornasi disini sebagai enabler dimulai dari proses pengumpulan data, pengolahan, integrasi, pelaporan, analisa, dan sampai kepada pengambilan keputusan.
  5. Reaching the customer; tahapan kelima teknologi informasi dipandang telah menjadi alat untuk mendapatkan pelanggan. Biasanya ini terjadi pada perusahaan penyedia jasa, teknologi informasi diekploitasi secara maksimal 24 jam x 7 hari dan menembus  batas ruang  dan bata waktu (ubiquitous). Teknologi informasi  menjadi penghubung antara perusahaan dengan pelanggan, lihat saja internet banking, mobile banking, home shopping, e-consultancy, e-commerce, dsb

 

Dari dua pendapat pakar diatas, maka gelombang inovasi teknologi menurut penulis dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Tahap 1, TI digunakan untuk mengurangi biaya produksi organisasi. Dalam hal ini, manajer focus pada aspek efisiensi. Menurut manajer, dengan menggunakan TI maka proses produksi akan semakin mudah, semakin praktis, semakin baik, tetapi murah. Contohnya adalah penggantian mesin tik dengan computer. Dengan menggunakan computer maka tulisan akan menjadi rapi. Selain itu, file/dokumen juga bisa disimpan secara softcopy sehingga menghemat kertas.
  2. Tahap 2, TI digunakan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan computer oleh organisasi. Pembentukan jaringan computer dengan kabel yang disambungkan dengan printer serta hardware lain semakin mempengaruhi organisasi untuk menerapkan teknologi informasi.
  3. Tahap 3, TI digunakan untukmenghasilkan keuntungan melalui sistem informasi. Contohnya adalah sistem informasi kepegawaian.
  4. Tahap 4, TI digunakan untuk membantu pimpinan dalam menga,bil suatu keputusan dengan cepat, tepat dan akurat karena informasi-informasi lebih cepat sampai sehingga pimpinan dapat segera memikirkan keputusan yang akan diambil.
  5. Tahap 5, TI digunakan untuk memperoleh customer atau pelanggan melalui jaringan internet serta wireless (tanpa kabel). Hal ini semakin meningkatkan efektivitas kinerja organisasi.

 

  1. MENYAMBUT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Dengan melihat dan memahami gelombang inovasi teknologi informasi, maka semakin tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi sangat baik untuk diterapkan dalam suatu organisasi. Organisasi yang dimaksud adalah dalam sekup luas, bisa organisasi bisnis, organisasi sosial, bahkan organisasi di bidang pendidikan. Salah satu organisasi yang menyambut baik perkembangan teknologi informasi ini adalah organisasi pendidikan baik itu sekolah dasar, menengah, sekolah tinggi, institute, universitas, dan institusi-institusi lain di bidang pendidikan. Sambutan yang baik tersebut dibuktikan dengan banyaknya Sistem Informasi Akademik yang diterapkan oleh sekolah dan Universitas untuk memudahkan siswa, mahasiswa, guru, dosen, dan seluruh civitas akademika melakukan transaksi di bidang pembelajaran.

Teknologi informasi mampu memberikan kemudahan pihak pengelola menjalankan kegiatannya dan meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas sekolah dimata siswa, orang tua siswa, dan masyakat umumnya. Penerapan teknologi informasi untuk menunjang proses pendidikan telah menjadi kebutuhan bagi lembaga pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan teknologi informasi ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi manajemen pendidikan. Keberhasilan dalam peningkatan efisiensi dan produktivitas bagi manajemen pendidikan akan ikut menentukan kelangsungan hidup lembaga pendidikan itu sendiri.

Penghematan waktu dan kecepatan penyajian informasi akibat penerapan teknologi informasi tersebut akan memberikan kesempatan kepada guru dan pengurus sekolah untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan pembinaan kepada siswa. Dengan demikian siswa akan merasa lebih dimanusiakan dalam upaya mengembangkan kepribadian dan pengetahuannya.

Manfaat dari penerapan teknologi informasi di institusi pendidikan menurut Juniwati dalam (http://www.kamadeva.com/index-menu-news-newsid-tiduniapendidikan.htm.) adalah:

  1. Penyimpanan dan pengolahan data siswa, staf, keuangan, dan asset sekolah
  2. Analisis perkembangan kinerja siswa, guru, dan sekolah dari periode ke periode
  3. Penyediaan informasi tentang perkembangan studi siswa kepada Guru Wali dan Orang Tua
  4. Penyediaan informasi untuk mendukung pelaporan kepada Kantor Dinas Pendidikan yang terkait dengan Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Badan Akreditasi Sekolah (BAS)
  5. Pengolahan data menjadi informasi untuk mendukung pengambilan keputusan
  6. Pengelolaan perpustakaan termasuk katalogisasi buku-buku, penelusuran buku, proses peminjaman dan pengembalian buku, status keberadaan buku, dan penetapan jumlah denda.
  7. Penyediaan komunikasi yang berupa instant messaging kepada stakeholder-nya dengan memanfaatkan teknologi internet dan teknologi komunikasi nirkabel.

 

Melihat perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat serta penggunaannya yang sangat banyak diminati khususnya oleh organisasi pendidikan memunculkan beberapa dampak positif dan negatif. Menurut Rochaety (2005:75-76) dampak positif diadakannya dan diterapkannya teknologi informasi pada organisasi pendidikan adalah kinerja organisasi lebih efisien karena teknologi informasi dapat menghapus posisi penyambung komunikasi dari dua tempat yang berkepentingan, juga menghapuskan batas waktu untuk operasi internasional. Selain itu, siswa atau mahasiswa bisa melaksanakan pembelajaran dengan berbasis internet yang biasa disebut dengan e-learning sehingga pembelajarannya lebih praktis dan hasil atau mutu dari pembelajarannya tidak kalah bagus dengan pembelajaran klasikal. Namun, dampak negatif yang dimunculkan dari diterapkannya teknologi informasi ini di organisasi pendidikan adalah terjadinya pengurangan tenaga kerja karena pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia sudah tergantikan oleh teknologi inforasi yang berkembang. Hal ini akan menyebabkan menambahnya angka pengangguran.

 

Dari berbagai uraian di atas, penulis dapat menarik suatu gambaran bahwa teknologi informasi yang berkembang luar biasa cepat ini membawa dua dampak yaitu positif dan negatif. Namun, terlepas dari dampak tersebut, terlihat bahwa berbagai organisasi khususnya organisasi pendidikan menyambut dengan baik perkembangan teknologi informasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya sekolah dan universitas yang menerapkan teknologi informasi. Keputusan yang diambil oleh sekolah dan perguruan tinggi dalam menerapkan teknologi informasi memang sangat baik apabila disesuaikan dengan kondisi dari sekolah atau universitas karena memang banyak sekali manfaat serta dampak postif yang diperoleh dari penerapan teknologi informasi. Namun, sekolah dan universitas juga harus mempersiapkan strategi untuk menghadapi dapak negatif dari penerapan teknologi informasi yaitu pengurangan tenaga kerja yang nantinya berimbas pada meningkatnya angka pengangguran. Untuk itu, diperlukan suatu strategi untuk mengatasi maslah tersebut. Salah satu caranya adalah memadukan antara teknologi informasi dengan sumber daya manusia agar tidak terjadinya peningkatan pengangguran.

 

  1. C.      MODEL PEMBELAJARAN DENGAN E-LEARNING

Metode pembelajaran tradisional saat ini memerlukan sebuah perubahan dalam kaitannya dengan proses adaptif dan mempersiapkan para peserta didik agar siap menjadi knowledge workers, dimana ilmu pengetahuan menjadi faktor yang sangat penting. Berdasarkan penelitian UNESCO dan World Bank (Rochaety, 2005:76), pada negara berkembang sangat diperlukan adanya perubahan pendekatan dan paradigma pembelajaran. Apabila tidak dilakukan, maka negara berkembang tidak akan mampu bersaing di era ekonomi yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Pada era ini mengharuskan para pekerjanya secara cepat menemukan berbagai informasi yang diperlukan serta mempergunakan informasi tersebut untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, muncullah model pembelajaran e-learning.

Pembelajaran e-learning ( Rochaety, 2005:76) adalah perpaduan antara metode tatap muka dengan metode online (via internet dan berbagai pengembangan teknologi informasi lainnya). Sedangkan dalam blog e-learning, e-learning  merupakan suatu sistem pembelajaran dengan menggunakan peralatan tambahan untuk dapat menggunakannya dalam hal ini yang digunakan adalah komputer serta software penunjang lainnya seperti adobe macromedia flash player dan java. Jadi, dari pendapat di atas, maka dapat diambil simpulan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran e-learning adalah suatu model pembelajaran secara konvensional yang dipadukan dengan teknologi informasi sehingga mempermudah siswa dalam penerimaan materi ajar.

Proses pembelajaran secara online dapat dilakukan dengan cara berikut :

  1. Proses pembelajaran secara konvensional (lebih banyak face to face meeting) dengan tambahan pembelajaran melalui media interaktif komputer via internet atau menggunakan grafik interaktif komputer.
  2. Dengan metode campuran, yakni secara umum sebagian besar proses pembelajaran dilakukan melalui komputer, namun tetap juga memerlukan face to face meeting untuk kepentingan tutorial atau mendiskusikan bahan ajar.
  3. Metode pembelajaran yang secara keseluruhan hanya dilakukan secara online, metode ini sama sekali tidak ditemukan face to face meeting.

 

Model pembelajaran yang dikembangkan melalui e-learning menekankan pada resourse based learning, yang juga dikenal dengan learner-centered learning. Dengan model ini, peserta didik mampu mendapatkan bahan ajar dari tempatnya masing-masing. Keuntungan model pembelajaran seperti ini adalah tingkat kemandirian peserta didik menjadi lebih baik dan kemampuan teknik komunikasi mereka menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Resourse based learning dilengkapi dengan virtual library dan call center. Komitmen terhadap model pembelajaran tersebut ditentukan dengan formula pada tahun pertama peserta didik hanya mendapatkan bahan ajar melalui CD-ROM, tahun kedua hingga tahun keempat mereka mendapatkan bahan ajar melalui website. Kemudian dikembangkan lagi ke sistem instruksi yang berbasis jaringan yang disebut Virtual Online Instructional Support Sistem (VOISS). Dengan VOISS, peserta didik dimungkinkan untuk mendownload tugas-tugas, membaca arahan dari staf pengajar, mengikuti kuis secara online, melihat jadwal kelas, menerima atau mengirim e-mail kepada sesama peserta didik, bahkan dimungkinkan untuk melihat hasil tes mereka, kapan dan dimana saja. Dengan VOISS juga dimungkinkan adanya forum diskusi interaktif yang dapat melibatkan peserta didik dengan staf pengajar mereka tanpa harus berkumpul dalam sebuah ruangan serta mampu menghubungkan seorang staf pengajar dengan sejumlah peserta didik dari suatu wilayah geografis.

Walaupun demikian, e-learning tidak benar-benar menjadi alternatif proses pembelajaran yang menggantikan proses pembelajaran tradisional secara holistik, melainkan hanya sebagai pelengkap. Kombinasi keduanyalah yang akan menghasilkan sinergi yang produktif. Proses pembelajaran secara fisik di sekolah akan menjaga nilai dari human interaction, sedangkan e-learning akan memberikan akses pada knowledge resource yang sangat kaya dari internet.

 

Dampak e-learning

E-learning berdampak besar pada dunia pendidikan. Para pelajar merasakan pola belajar yang berbeda dibandingkan kelas konvensional. Para pelajar dapat memilih sendiri cara belajar yang dirasa paling cocok dengan kepribadian mereka ketika mengikuti kelas e-learning. Para pendidik juga merasakan dampak dari penggunaan e-learning terhadap metode pengajaran yang digunakan. Mereka perlu melakukan adaptasi dalam cara pengajaran yang disampaikan yang tentunya berbeda dengan metode konvensional. Selain itu juga diperlukan keahlian dalam menyediakan materi pembelajaran yang menarik untuk digunakan melalui sistem e-learning dan menggunakan fitur-fitur yang disediakan pada sistem e-learning dengan optimal dan efisien.

Namun selain dampak positif dari e-learning, perlu diperhatikan pula segi pembiayaannya yang relatif mahal. Jika dibandingkan dengan kelas konvensional, biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan e-learning ternyata lebih besar karena infrastruktur yang dibutuhkan untuk kelangsungan e-learning juga menuntut investasi yang besar. Perbedaan biaya ini bisa terjadi karena memang dunia pendidikan e-learning sangat jauh berbeda dengan dunia pendidikan konvensional, sehingga keahlian dan infrastruktur yang dibutuhkan jauh berbeda. Infrastruktur ini bukan hanya terdiri dari infrastruktur teknologi, tetapi juga mencakup infrastruktur non-teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung jalannya e-learning, seperti misalnya biaya penyediaan materi, biaya pemasaran dan juga biaya sumber daya manusia yang dibutuhkan. Biaya-biaya ini tentunya akan semakin besar seiring dengan kualitas yang ingin dicapai melalui e-learning.

Adanya masalah biaya ini menyebabkan beberapa institusi pendidikan yang memiliki keterbatasan finansial memilih untuk bekerja sama dengan institusi pendidikan lain atau perusahaan penyedia layanan pengembangan sistem e-learning untuk menyelenggarakan e-learning. Tetapi perusahaan yang memiliki cukup dana dapat mengembangkan sendiri sistem e-learning yang digunakannya dan bahkan pada beberapa kasus, sistem tersebut dapat juga digunakan oleh pihak eksternal perusahaan. Walau biayanya sangat besar, e-learning tetap menarik perhatian karena e-learning menawarkan suatu yang sangat berbeda dan tidak dimiliki oleh kelas konvensional.

 

Action learning dalam pendidikan

Action learning dicetuskan oleh Reg Revans tahun 1971 di Amerika Serikat. Pada mulanya pendekatan ini hanya diperuntukkan bagi karyawan perusahaan, kemudian berkembang dan banyak dibutuhkan oleh organisasi-organisasi non bisnis, termasuk organisasi pendidikan. Revans menggambarkan action learning merupakan sebuah cara pengembangan intelektual, emosi maupun fisik seseorang atau sekelompok orang yang terlibat dalam sebuah organisasi. Pengembangan ini dilakukan melalui keterlibatan penuh dalam masalah organisasi yang sangat kompleks. Sasaran yang ingin dicapai dalam pendekatan ini adalah terjadinya partisipasi aktif dari setiap unsur organisasi untuk proses pemecahan masalah. Action learning sangat populer di kalangan akademis dan praktisi Sumber Daya Manusia (SDM) karena pendekatan ini banyak dilakukan dalam pelatihan dan pengembangan SDM, baik SDM di perusahaan maupun SDM di lembaga pendidikan.

Ada tiga komponen utama dalam action learning.

  1. Orang yang menerima tanggungjawab untuk bertindak mengenai masalah yang dihadapi (pimpinan lembaga pendidikan).
  2. Tugas yang ditetapkan untuk setiap unsur organisasi (job description).
  3. Tim kerja yang akan merumuskan berbagai masalah yang dihadapi organisasi yang saling mendukung agar terjadi sinergi untuk kemajuan organisasi.

 

Pendekatan ini paling cocok digunakan untuk kebutuhan lembaga pendidikan, misalnya kebutuhan dalam masalah proses pembelajaran, mengidentifikasi peluang penyempurnaan proses pembelajaran, merancang program pembelajaran, dan merealisasikan visi dalam operasional pendidikan. Action learning digunakan jika kebutuhan yang akan dibahas cakupannya lebih sederhana, jelas, kritis dan bersifat segera. Misalnya, lembaga pendidikan dalam menghadapi perubahan kebijakan pendidikan yang aktual, terutama menyangkut lulusan lembaga pendidikan yang ditentukan oleh departemen terkait tanpa memperhatikan kapabilitas maupun akuntabilitas setiap lembaga pendidikan.

Apabila situasi lembaga pendidikan yang membutuhkan action learning sudah teridentifikasi, maka lembaga tersebut harus mempersiapkan sebuah tim action learning untuk menangani masalah yang dihadapi. Anggota tim action learning adalah guru-guru yang memiliki keterkaitan langsung dengan operasional lembaga pendidikan dan yang memiliki latar belakang pengetahuan dan keterampilan, sikap positif dan terbuka, serta disiplin keilmuan yang berbeda. Dengan demikian, tim yang sudah dibentuk memiliki visi dan misi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Action learning juga membutuhkan fasilitator yang berperan membantu agar tim dapat bekerja sama secara serempak. Fasilitator ini sebaiknya diambil dari orang luar, sehingga nantinya dalam membahas permasalahan yang dihadapi lembaga pendidikan bisa lebih obyektif dan mendalam. Berikut gambar model kerja action learning.

 

 

 

 

 

 

 

Identifikasi situasi yang sesuai dengan action learning

Menetapkan arah lembaga pendidikan berikutnya

Memilih dan mengorganisasikan tim action learning

Evaluasi hasil

Tim diberi pengarahan dan batasan-batasan

Bebaskan tim untuk mengidentifikasi dan bereksperimen dengan solusi

a

sumber : Rochaety, 2005:82

 

 

Sebelum tim bekerja, mereka diberikan pengarahan oleh fasilitator tentang informasi mengenai masalah yang dihadapi sesuai dengan pandangan fasilitator. Pengarahan tidak harus detail karena yang diperlukan adalah pemahaman tim mengenai apa yang harus dilakukan dan diputuskan. Kemudian tim akan mulai bekerja untuk mengumpulkan informasi, melakukan diskusi, menyusun strategi solusi, dan mencoba untuk mengimplementasikannya. Apabila sudah menemukan solusi dan sudah diimplementasikan, maka hasilnya harus dievaluasi dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Action learning harus mengacu pada konsep belajar karena belajar merupakan proses yang dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang.

 

Sinergi positif dan negatif sistem informasi dan strategi pendidikan

Sinergi positif adalah sinergi antara sistem informasi yang disajikan dengan baik serta pemahaman strategi lembaga pendidikan yang memadai. Sedangkan sinergi negatif adalah sistem informasi tidak mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pihak manajemen lembaga pendidikan dalam proses pembuatan keputusan karena tidak didukung oleh sistem informasi yang ada sehingga keputusan yang diambil akan meragukan karena informasi yang ada  kurang memadai. Jika sinergi kedua unsur tersebut bisa dijalankan secara ideal, maka sinergi yang terjadi adalah positif. Sebaliknya, jika kedua sinergi kurang tepat, maka yang terjadi adalah sinergi negatif.

 

 

Berikut gambaran sederhana kedu sinergi tersebut.

 

KUADRAN II                                                 KUADRAN I

Sumber : Rochaety, 2005:84

 

 

Masih dimungkinkan terjadi sinergi negatif, misalnya dengan meminta jasa konsultan bidang pendidikan untuk memandu penyusunan strategi lembaga pendidikan.

  1. G.      PENDEKATAN HUMAN-CENTERED DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

Sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan mengalami kemajuan yang sedemikian pesat.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menjadikan banyak lembaga pendidikan menjadi bernilai karena nilai informasi yang dihasilkan memiliki arti strategis dalam pola pengembangan manajemen lembaga pendidikan. Dengan demikian, teknologi informasi akan menjadi keharusan dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan agar mampu mengembangkan pola pembelajaran yang lebih berkualitas dan memiliki nilai bagi pelanggannya.

Untuk mampu menguasai teknologi informasi yang optimal, setidaknya diperlukan prasyarat umum yang meliputi kesiapan baik sumber daya manusia maupun sumber daya material. Kesiapan sumber daya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipenuhi karena bagi lembaga pendidikan harus mencari alternatif tertentu yang paling menguntungkan dan tepat guna. Salah satu upaya tersebut, yaitu dengan strategi outsourcing teknologi informasi, yang merupakan strategi penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi oleh lembaga pendidikan melalui pihak ketiga (Ludigdo dalam Rochaety, 2005:86) Akan tetapi, strategi ini tidak selalu memberikan manfaat yang optimal dan mengandung sejumlah resiko sehingga digunakan strategi insourcing dalam pemanfaatan teknologi.

  1. 1.    Teknologi Informasi dan Keunggulan Kompetitif

Hubungan antara teknologi informasi dan keunggulan kompetitif lembaga pendidikan adalah lembaga pendidikan perlu mengembangkan kapabilitas teknologi informasi secara efektif dengan biaya untuk investasi teknologi informasi, menghasilkan sistem yang tepat guna, dan mencapai tujuan pembelajaran dengan implementasi teknologi informasi.

Menurut Quinn & Hilmer, 1994 dalam (Rochaety, 2005:86) ada dua strategi yang bisa dikombinasikan, yaitu (1) mengonsentrasikan sumber daya untuk mencapai keunggulan dan memberikan nilai yang unik bagi pelanggan; (2) mencari sumber daya dari luar yang lebih strategis.

Ada beberapa manfaat dari penerapan teknologi informasi oleh sebuah lembaga termasuk lembaga pendidikan dalam rangka mencapai keunggulan kompetitif walaupun tidak semua manfaat dapat dikuantifikasikan secara finansial.

  1. 2.    Faktor Manusia dalam Manajemen Informasi

Nilai dari kapabilitas teknologi informasi lembaga pendidikan tergantung pada aset manusia, teknologi, dan hubungan (relationship) antara teknologi dengan manajemen lembaga pendidikan, sekaligus menunjukkan bahwa aset manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam penguasaan dan pengembangan teknologi informasi.

Dengan kombinasi pelatihan formal, pengalaman kerja, dan kepemimpinan yang terfokus, staf teknologi informasi dapat mengakumulasikan kompetensi dan pengetahuan teknologi menjadi relevan.

  1. 3.    Human-centered Approaches Vs Machine-Centered Approaches

Pendekatan yang digunakan dalam manajemen informasi yang menekankan pada pemikiran bagaimana orang menggunakan informasi, itulah yang dimaksud dengan Human-centered Approach. Adapun yang menekankan bagaimana orang menggunakan mesin (alat), itulah yang dimaksud dengan machine-centered approach atau disebut information architecture (Dapenvort, dalam Rochaety, 2005:87)). Beberapa hal yang membedakan antara human-centered dan machine-centered dalam manajemen informasi adalah desain teknologi dan proses.

 

  1. H.  KEAMANAN SISTEM INFORMASI, MORAL, ETIKA, DAN HUKUM TEKNOLOGI INFORMASI
  2. 1.    Keamanan Sistem Informasi

Beberapa prosedur dirumuskan untuk melindungi data dan informasi, baik dari faktor kesenjangan maupun masalah teknis dan etika yang diperkirakan dapat merusak, menghilangkan, atau menghambat distribusi data dan informasi tersebut.

Upaya yang dilakukan secara teknis untuk mengatasi hal tersebut, yaitu dengan menyusun visi berasama guna melindungi dan mengamankan data dan informasi.

Menurut Hary Gunarto dalam (Rochaety, 2005:89) terdapat tiga jenis pengendalian data dan informasi, meliputi : (1) pengendalian sistem informasi, (2) pengendalian prosedural, dan (3) pengendalian fasilitas.

a)   Pengendalian Sistem Informasi

Pengendalian perlu diciptakan untuk melakukan kegiatan input data, kegiatan pemrosesan, dan kegiatan penyimpanan data sehingga implementasi sistem dapat dilaksanakan dengan baik dan aman. Pengendalian dalama hal ini direncanakan untuk memonitor dan menjaga kualitas, keamanan peralatan, input, proses, output, aktivitas penyimpanan, dan distribusi sistem informasi.

Pertama, pengendalian input terdiri dari : (1) penggunaan sistem password dan log-in name akan membatasi siapa yang dapat melakukan akses terhadap sistem informasi tersebut; (2) pendeteksian terhadap proses pemasukan data; (3) pemasukan kode.

Kedua, untuk pengendalian proses yang berkaitan dengan perangkat komputer akan meliputi : (1) koneksi peralatan pendukung untuk mengecek pendeteksian kode, (2) memastikan bahwa prosesor yang digunakan tidak terdapat kesalahan, (3) pengecekan terhadap kompatibilitas program sebelumnya dengan program baru yang digunakan, dan (4) ketersediaan prosedur untuk melakukan pencegahan terhadap kesalahan yang terjadi sehingga perlu disediakan prosedur pencegahan melalui pemunculan kotak dialog yang memberikan informasi tentang prosedur yang benar.

Ketiga, langkah-langkah pengendalian output secara standar dilakukan melalui : (1) pengecekan dokumen dan laporan yang dihasilkan, (2) pengecekan terhadap seluruh output,  apakah sudah sesuai dengan input yang diberikan.

Keempat, pengendalian penyimpanan baik proses maupun peralatan yang digunakan, jenis pengendalian ini meliputi tiga hal : (1) Kerusakan Harddisk, (2) Virus, merupakan problematika yang cukup pelik karena virus komputer dapat menjalar secara cepat, baik melalui medium disket maupun jaringan komputer dan internet. (3) Pengendalian sistem informasi yang berkaitan dengan proses distribusi data dan informasi.

b)   Pengendalian Prosedural

Hal-hal yang harus dirumuskan dalam penyusun pengendalian prosedural, antara lain (1) prosedur backup data dan program yang disesuaikan dengan tingkan urgensinya; (2) prosedur untuk memasuki lingkungan jaringan komputer yang ada dilingkungan organisasi dan prosedur apabila akan keluar dan meninggalkannnya; (3) prosedur pembagian kerja antara staf pengelola teknologi informasi berdasarkan keahlian dan kemampuannya.

c)    Pengendalian Fasilitas dan Usaha Pegamanan

Upaya pengendalian fasilitas dapat dilakukan, antara lain melakukan kompresi agar dapat menjaga tingkat kepadatan lalu lintas data dalam jaringan, enskripsi, dan deskripsi untuk menjaga keamanan data dalam harddisk maupun yang sedang melintas dalam jaringan.

 

  1. 2.    Moral, Etika, dan Hukum Teknologi Informasi

Menurut McLeod dalam (Rochaety, 2005:91) moral merupakan kebiasaan dalam mempercayai prilaku baik atau buruk. Oleh sebab itu, moral merupakan institusi sosial yang memiliki sejarah dan sederetan peraturan ketika semua individu harus bertanggung jawab terhadap perilaku masyarakatnya, moral tersebut mempelajari aturan-aturan tentang perilaku sejak seseorang masih kecil.

Sedangkan etika merupakan serangkaian petunjuk yang harus diikuti, memiliki standar atau idealisme yang diterima oleh perorangan, kelompok, atau suatu komunitas teknologi informasi.

Menurut James H. Moor dalam Rochaety (2005: 91) etika teknologi informasi berperan sebagai alat analisis mengenai sifat dan dampak sosial teknologi informasi, serta formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan teknologi informasi tersebut.

Hambatan dalam menghadapi penerapan etika dan hukum pada teknologi informasi dan internet, antara lain pemahaman mengenai etika dan hukum pada masing-masing kelompok sosial yang berbeda, baik di negara maju maupun negara berkembang.

Menurut Hary Gunarto dalam (Rochaety 2005:92) meskipun permasalahn etika daan hukum teknologi informasi dan internet sangat kompleks tetapi beberapa tindakan dan perilaku yang dianggap tidak etis menurut perjanjian internasional telah berhasil dirumuskan antara lain :

1)   Akses ke tempat yang tidak menjadi haknya;

2)   Merusak fasilitas komputer dan jaringannya;

3)   Menghabiskan secara sia-sia setiap sumber daya yang berkaitan dengan orang lain, komputer, ruang harddisk, dan bandwdith komunikasi;

4)   Menghilangkan atau merusak integritas dan kerja sama antarsistem komputer;

5)   Menggangggu kerahasiaan individu atau organisasi.

Dalam menanamkan budaya etika pada lembaga pendidikan, ada tiga bentuk implementasi yang harus diperhatikan berikut ini.

  1. Membentuk paham etika lembaga pendidikan (educational institusion credo).
  2. Program etika merupakan sistem yang merancang aktivitas ganda untuk memfasilitasi pimpinan dan bawahan yang terlibat dalam lembaga pendidikan dalam memahami organisasi pendidikan tersebut.
  3. Membangun kode etik lembaga pendidikan tersendiri atau beradabtasi dengan kode etik yang dibuat oleh lembaga profesi dibidang pendidikan, misalnya kode etik guru dan kode etik kepala sekolah.

Ketiga unsur yang membentuk budaya etika dalam lembaga pendidikan dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut.

Membentuk Paham Etika

Membuat Program Etika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya Leod mengemukakan bahwa dalam merencanakan operasi teknologi informasi yang beretika harus memenuhi 9 tahap standar etika, yaitu :

1)   Merumuskan paham etika;

2)   Mebentuk prosedur melalui peraturan-peraturan yang ada;

3)   Menetapkan sanksi;

4)   Mengakui adanya perilaku etis;

5)   Memfokuskan pada program pelatihan;

6)   Melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan;

7)   Mendorong program rehabilitasi etika;

8)   Mendorong partisipasi masyarakat profesional untuk membuat kode etik;

9)   Menetapkan budaya keteladanan.

Sementara itu menurut James Moor dalam Indrajit (2002: 265) bahwa dalam pembuatan perangkat lunak yang didasari pada teknik pemrograman terstruktur teknologi informasi, ada tiga alasan utama diperlukannya etika, yaitu logical malleability (kelenturan logika), transformation factor (faktor transformasi), dan invisibility faktor (faktor yang tidak kasat mata).

  1. Kelenturan logika

Perangkat aplikasi teknologi informasi akan melakukan hal-hal yang diinginkan pembuatnya (progammer).

  1. Faktor transformasi

Konsep etika berkembang dalam fenomena transformasi karena telah bergesernya paradigma dan mekanisme aktivitas lembaga pendidikan sehari-hari, baik antara komponen internal maupun komponen eksternal.

  1. Faktor tidak kasat mata

Komputer sebagai kotak hitam dari teknologi informasi akan bekerja sesuai dengan aplikasi yang diinstalasi.


 

PENUTUP

  1. A.    SIMPULAN

Gelombang inovasi teknologi terjadi melalui beberapa tahap yakni diantaranya adalah tahap pertama difokuskan untuk peningkatan produktivitas dan memperkecil biaya, tahap kedua difokuskan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan peralatan computer melalui pembangunan jaringan computer, tahap ketiga difokuskan untuk menghasilkan keuntungan lewat pembangunan program sistem informasi, tahap keempat difokuskan untuk membantu proses pengambilan keputusan, tahap kelima difokuskan untuk meraih pelanggan, dan tahap keenam mengembangkan sistem jaringan tanpa kabel. Gelombang inovasi teknologi yang berkembang pesat mendapat sambutan baik di dunia pendidikan. Banyak organisasi pendidikan yang menerapkan teknologi informasi, dan salah satu bentuk nyatanya adalah diberlakukannya sistem informasi akademik dan e-learning. E-learning merupakan proses pembelajaran yang memadukan antara metode tatap muka dengan metode online. Dengan diberlakukannya metode e-learning ini banyak damapk positif yang diterima dan terdapat dampak negatif pula. Untuk itu perlu diadakan analisis kebutuhan dan strategi-strategi untuk menerapkan metode pembelajaran e-learning agar proses pembelajaran bisa berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan mencapai tujuan pedidikan.

Salah satu hal yang penting dalam penerapan teknologi innformasi di dunia pendidikan adalah pendekatan human-centered. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang digunakan dalam manajemen informasi yang menekankan pada pemikiran bagaimana orang menggunakan informasi. Dalam pendekatan human-centered, teknologi dan proses didesain untuk membuat sistem kerja manusia menjadi lebih efektif dan memuaskan. Disini, titik tekannya adalah manusia harus mampu untuk menguasai, mengoperasikan, serta mengendalikan informasi dengan berbasis teknologi yang ada. Selain itu, unsure-unsur penting dalam penggunaan atau penerapan teknologi adalah keamanan sistem informasi, moral, etika, dan hukum teknologi informasi. Dalam menggunakan serta memanfaatkan teknologi informasi, kita harus tetap memperhatikan moral, etika, serta hukum yang berlaku, dan tetap menjaga keamanan sistem informasi.

 

  1. B.     SARAN
    1. Dengan berkembangnya teknologi informasi, maka kita harus tetap memperhatikan aspek moral, etika, dan hokum teknologi informasi agar kita tidak melakukan penyalahgunaan teknologi informasi.
    2. Pemerintah harus menegakkan hokum teknologi informasi secara tegas dan lebih ketat agar tidak terjadi peningkatan kriminalitas di bidang teknologi informasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A. Daniel Albert Y. dan Mulyadi, Michael B. 2007. E-learning dan Aspek-aspek Penting dalam Penerapannya, (online), (http://bebas.vlsm.org/v06/Kuliah/Seminar-MIS/2007/207/207-11-Ringkasan_Kelompok.pdf, diakses  18 Maret 2012).

Elearning. 2011. Pengertian elearning, (online), (http://www.elearning.web.id/tag/pengertian-elearning, diakses 19 Maret 2012).

Juniwati.2007. Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan,

(online) (http://www.kamadeva.com/index-menu-newsnewsidtiduniapendidikan.htm, diakses 15 Maret 2012).

Rochaety, E., dkk. 2005. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara.

Sofian, Jonathan. 2009. Tahapan Gelombang Inovasi, (online), (http://jsofian.wordpress.com/2009/05/06/tahapan-gelombang-inovasi/, diakses 15 Maret 2012).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s