BERBAGAI TEORI DAN GAYA KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi untuk mengarahkan orang lain agar mengerahkan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan bersama. Dalam menjalankan suatu kepemimpinan, pastinya seorang pemimpin dihadapkan pada situasi-situasi tertentu yang mendesak pemimpin untuk dapat mengambil keputusan serta berperilaku secara tepat agar tujuan bersama dari kelompok atau organisasi yang dipimpin dapat tercapai. Untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik maka seorang pemimpin memerlukan berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Di bawah ini terdapat berbagai gaya kepemimpinan yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menjalankan kepemimpinan yang efektif.

MANAGERIAL GRID
Salah satu usaha yang terkenal dalam rangka mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam manajemen adalah managerial grid. Dalam pendekatan managerial grid ini, manajer berhubungan dengan dua hal yaitu produksi dan bawahan. Sebagaimana dikehendaki Blake dan Mouton (Thoha, 2012:53) managerial grid menekankan bagaimana manajer memikirkan produksi dan hubungan manajer serta memikirkan produksi dan hubungan kerja dengan manusianya. Menurut Blake dan Mouton ada empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrem, sedangkan lainnya hanya satu gaya yang dikatakan berada di tengah-tengah gaya ekstrem tersebut.

ManagerialGrid
• Pada grid 1.1
Manajer sedikit sekali usahanya untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dengannya dan produksi yang seharusnya dihasilkan oleh organisasinya. Dalam menjalankan tugas manajer dalam grid ini menganggap dirinya sebagai perantara yang hanya mengkomunikasikan informasi dari atasan kepada bawahan.
• Pada Grid 1.9
Gaya kepemimpinan dari manajer ini ialah mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk selalu memikikan orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Tetapi pemikirannya mengenai produksi rendah.
• Pada Grid 9.1
Manajer yang otokratis dimana manajer hanya mau memikirkan tentang usaha peningkatan efisiensi pelaksanaan kerja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya.
• Pada Grid 9.9
Manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan baik produksi maupun orang-orang yang bekerja dengannya.
• Pada Grid 5.5
Manajer mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Dia berusaha mencoba menciptakan dan membina moral orang-orang yang dipimpinnya, dan produksi dalam tingkat memadai serta tidak terlampau mencolok.

Dari 5 gaya pada managerial grid, gaya pada grid 9.9 yang merupakan gaya paling efektif untuk diterapkan dalam menjalankan kepemimpinan.

TIGA DIMENSI REDDIN
Reddin melihat gaya kepemimpinan dari efektivitas dan melihat dari dua hal yang lain yaitu hubungan pemimpin dengan tugas dan hubungan kerja. Model yang dibangun Reddin merupakan gaya kepemimpinan yang cocok dan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungannya.
Pada tiga dimensi reddin ini (Thoha, 2012:57), terdapat empat gaya yang efektif yang di antaranya adalah:
• Ekekutif
Gaya ini banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini disebut sebagai motivator yang baik, mau menetapkan standar kerja yang tinggi, berkehendak mengenal perbedaan di antara individu, dan berkeinginan menggunakan kerja tim dalam manajemen.
• Pecinta pengembangan
Gaya ini meberikan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian minimum terhadap tugas-tugas pekerjaan. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan yang implicit terhadap orang-orang yang bekerja dalam organisasinya, dan sangat memperhatikan pengembangan mereka sebagai seorang individu.
• Otokrtais yang baik
Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas, dan perhatian yang minimum terhadap hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini mengetahui secara tepat apa yang ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang diinginkan tersebut tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain.
• Birokrat
Gaya ini memberikan perhatian yang minimum terhadap baik tugas maupun hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunkan gaya ini sangat tertarik pada peraturan-peraturan dan menginginkan peraturan tersebut dipelihara, serta melakukan kontrol situasi secara teliti.

Sedangkan empat gaya yang tidak efektif diantaranya adalah:
• Pecinta kompromi
Gaya ini memberikan perhatian yang besar pada tugas dan hubungan kerja dalam situasi yang menekankan pada kompromi. Manajer yang bergaya seperti itu merupakan pembuat keputusan yang tidak bagus karena banyak tekanan yang mempengaruhinya.
• Missionary
Gaya ini memberikan penekanan yang maksimal pada orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dengan perilaku yang tidak sesuai. Manajer semacam ini hanya menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri.
• Otokrat
Gaya ini membeikan perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu perilaku yang tidak sesuai. Manajer seperti ini tidak mempunyai kepercayaan pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada jenis pekerjaan yang segera selesai.
• Lari dari tugas
Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan kerja. Dalam situasi tertentu, gaya ini tidak begitu terpuji karena manajer seperti ini menunjukkan sikap pasif dan tidak mau ikut capur secara aktif dan positif.

MODEL KONTINGENSI FIEDLER
Fiedler mengembangkan suatu model dalam kepemimpinn yang dinamakan dengan Model Kontingensi Kepemimpinan yang Efektif (A Contingency Model of Leadership Effectiveness). Model ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Sebagaimana menurut Fiedler (Thoha, 2012:37-38) situasi yang menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris adalah sebagai berikut:
• Hubungan pemimpin dengan anggota
Hal ini merupakan variabel yang paling penting dalam menentukan situasi yangb menyenangkan.
• Derajat dari struktur tugas
Dimensi ini merupakan masukan yang amat penting kedua dalam menentukan situaso yang menyenangkan.
• Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal.
Dimensi ini merupakan dimensi yang amat penting ketiga di dalam situasi yang menyenangkan.
Suatu situasi akan dapat menyenangkan pemimpin jika ketiga dimensi di atas mempunyai derajat yang tinggi. Dengan kata lain, suatu situasi akan meyenangkan jika:
• Pemimpin diterima oleh para pengikunya.
• Tugas-tugas dan semua yang berhubungan dengannya ditentukan secara jelas.
• Penggunaan otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pada model kontingensi Fiedler ini, situasi yang menyenangkan dan gaya kepemimpinan yang diterapkan sangat mempengaruhi efektivitas kerja.

 

DAFTAR PUSTAKA

Thoha, Miftah. 2012. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta:Rajawali Pers

S1 Manajemen Pendidikan FIP Unesa

Visi:
Program Studi S1 Manajemen Pendidikan FIP Unesa mempunyai visi:  Menjadi pusat pendidikan dan penelitian yang terkemuka di bidang Manajemen Pendidikan.

Misi
Menyelenggarakan pendidikan akademik dan mengembangkan potensi mahasiswa beserta terapannya dalam memenuhi kebutuhan pengelolaan dan improvement pendidikan

Tujuan
Sesuai dengan Visi dan Misi tersebut di atas, maka tujuan pendidikan Program Studi S-1 Manajemen Pendidikan FIP-Unesa adalah menghasilkan tenaga professional dalam bidang Manajemen Pendidikan dan diharapkan mampu:

  1. Memahami pengetahuan dasar Manajemen Pendidikan dan teknik pengamatan lapangan secara obyektif sehingga dapat menginterpretasikan mekanisme pengelolaan pendidikan baik secara perorangan maupun kelompok.
  2. Mengenal berbagai macam teori dan berbagai teknik bidang manajemen baik sebagai alat pengukuran atau barometer progress pendidikan serta memahami fungsi dan manfaatnya.
  3. Menunjukkan kepekaan terhadap nilai dan permasalahan manajerial setiap perubahan dalam kinerja pendidikan atas faktor sosial, budaya dan moral serta etos kerja.
  4. Melakukan penelitian dibidang  Manajemen Pendidikan.
  5. Menghayati dan melaksanakan kode etik keilmuan, penelitian dan profesi.

KOMPETENSI LULUSAN
Kompetensi lulusan yang dimiliki lulusan Program Studi   S-1 Manajemen Pendidikan FIP Unesa adalah sebagai berikut  :

  1. Menguasai teknik-teknik perubahan di bidang Manajemen Pendidikan.
  2. Mampu mengidentifikasi, merumuskan dan mendesain system pendidikan serta mengaplikasikannya.
  3. Mampu mengidentifikasi, merumuskan dan mendesain program pendidikan.
  4. Mampu berkomunikasi dengan baik, yang mencakup komunikasi dengan bahasa digital dan bahasa asing.
  5. Memiliki kemampuan memimpin, senantiasa berkeinginan maju dan mampu belajar yang berkelanjutan, berkembang secara intelektual dan berpikir kritis.
  6. Memiliki kemampuan mensinergikan kebijakan pendidikan dengan kondisi riil satuan pendidikan dalam rangka improvisasi pendidikan’
  7. Memiliki kompetensi metodologis yang tercakup dalam aspek operation research and system analysis meliputi pengetahuan statistik dan metode penelitian ilmiah.
  8. Mempunyai kepekaan dalam fenomena/problematika manajerial.

TEORI KEPEMIMPINAN LIKERT

Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi untuk mengarahkan orang lain agar mengerahkan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan bersama.
Rensis Likert dari Universitas Michigan:
Gaya Kepemimpinan yang berlandaskan pada hubungan antara manusia melalui hasil produksi dari sudut pandang manajemen yang kemudian dikenal dengan Four Systems Theory. Empat Sistem Kepemimpinan menurut Likert tersebut antara lain :
1. Sistem Otokratis Eksploitif
Pada sistem Otokratis Eksploitif ini, pemimpin membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh pemimpin. Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan satu arah ke bawah (top-down).
Ciri-ciri sistem otokratis eksploitif ini antara lain:
a. Pimpinan menentukan keputusan
b. Pimpinan menentukan standar pekerjaan
c. Pimpinan menerapkan ancaman dan hukuman
d. Komunikasi top down

2. Sistem Otokratis Paternalistic
Pada sistem ini, Pemimpin tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan
prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Pemimpin mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancaman atau hukuman tetapi tidak selalu dan memperbolehkan komunikasi ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilan keputusan masih melakukan pengawasan yang ketat.
Ciri-ciri dri sistem Otokratis Paternalistic atau Otoriter Bijak, antara lain:
a. Pimpinan percaya pada bawahan
b. Motivasi dengan hadiah dan hukuman
c. Adanya komunikasi ke atas
d. Mendengarkan pendapat dan ide bawahan
e. Adanya delegasi wewenang

3. Sistem Konsultatif
Pada sistem ini, Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan – keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.
Pemimpin mempunyai kekuasaan terhadap bawahan yang cukup besar. Pemimpin menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dan kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan menerima keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
Ciri-ciri Sistem konsultatif antara lain:
a. Komunikasi dua arah
b. Pimpinan mempunyai kepercayaan pada bawahan
c. Pembuatan keputusan dan kebijakan yang luas pada tingkat atas

4. Sistem Partisipatif
Sistem partisipatif adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila pemimpin secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, pemimpin tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting. Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan insentif ekonomi untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.
Ciri-ciri Sistem Partisipatif antara lain:
a. Team work
b. Adanya keterbukaan dan kepercayaan pada bawahan
c. Komunikasi dua arah (top down and bottom up)

Sumber: http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id/2013/01/29/gaya-kepemimpinan-likert/
http://uwiemolor.wordpress.com/2009/10/24/teori-mc-gregor-dan-teori-rensis-likert/
http://nursing-academy.blogspot.com/2011/09/gaya-gaya-kepemimpinan-dalam.html

Catatan kritis untuk kurikulum 2013

 

3

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. (ANTARA/Dhoni Setiawan)

“Ibarat pertandingan sepak bola, mereka yang menolak kurikulum baru itu penonton, sedangkan pemain dan wasit dapat menerimanya.”

Surabaya (ANTARA News) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh  pernah mengibaratkan pro-kontra Kurikulum 2013 seperti pertandingan sepak bola.

“Ibarat pertandingan sepak bola, mereka yang menolak kurikulum baru itu penonton, sedangkan pemain dan wasit dapat menerimanya,” katanya dalam sebuah pertemuan dengan guru PGRI se-Jatim.

Ibarat Mendikbud itu agaknya benar, karena para guru, anggota profesi keguruan, dan praktisi/pengamat pendidikan yang sudah menyimak kurikulum baru itu umumnya dapat menerima.

Jika para guru umumnya dapat menerima, karena beban yang ditanggung selama ini justru menjadi ringan dengan adanya kurikulum baru itu, maka para praktisi/pengamat menerimanya dengan catatan.

Catatan itu antara lain datang dari pengamat pendidikan Darmaningtyas yang juga merupakan salah satu anggota tim perumus Kurikulum 2013 yang ditunjuk Mendikbud.

“Kurikulum 2013 itu sendiri bukan sesuatu yang baru, karena merupakan kombinasi dari cara belajar siswa aktif (CBSA) dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP),” ucapnya di Sidoarjo (14/5).

Dalam forum kajian ilmiah bertajuk “Arah Pendidikan Nasional di Era Global” yang diselenggarakan Dewan Pendidikan Jawa Timur, ia menjelaskan CBSA dulu gagal, karena masyarakat belum siap.

“CBSA itu mengajarkan murid bersikap kritis, tapi orang tua belum siap. Ketika murid bersikap kritis, seringkali justru memicu benturan dengan orang tua yang masih bersikap konservatif,” ungkapnya.

Hal yang sama, menurut dia, juga melingkupi penerapan Kurikulum 2013 yang sebenarnya lebih disebabkan oleh ketidaksiapan guru, karena mayoritas guru baru memahami KTSP, tapi tiba-tiba ada rencana perubahan menjadi Kurikulum 2013.

“Karena itu, perlu waktu agar semuanya siap, saya kira hal itu lebih baik daripada nanti ada masalah baru,” tutur pria yang akrab dipanggil Tyas itu.

Catatan yang tidak berbeda juga datang dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur yang meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013 hingga tahun ajaran 2014/2015.

“Para pengajar belum tersentuh dengan kurikulum baru (2013). Guru yang mata pelajarannya hilang atau disatukan butuh waktu untuk penyesuaian dengan penerapan kurikulum tersebut,” ujar Ketua PGRI Jatim, Ichwan Sumadi, di Surabaya (2/5).

Bercermin dari pelaksanaan UN (Ujian Nasional) 2013 yang karut marut, PGRI mengusulkan ke Kemendikbud untuk dua hal yakni prioritas pemberdayaan guru dan menghapus UN.

Hal yang sama juga dikemukakan pengamat pendidikan yang pernah menjadi anggota Dewan Pendidikan Jatim, Prof Daniel M. Rosyid. Bahkan, secara ekstrem, ia mengibaratkan bahwa kebutuhan utama bukan perubahan kurikulum, tapi perubahan guru dan budaya belajar.

“Guru harus profesional, jangan diintervensi birokrat pendidikan dan wali murid, tapi pembinaannya dilakukan oleh organisasi profesi guru. Budaya belajar juga dikembangkan dengan membangun budaya membaca yang sehat, pengalaman dan praktik diskusi kelas, budaya menulis, lalu beri kesempatan luas untuk berbicara,” tukasnya.

Ujian Nasional

Catatan kedua terkait Kurikulum 2013 adalah sistem evaluasi melalui ujian nasional (UN) yang justru dinilai terlalu kognitif, padahal Kurikulum 2013 sendiri menampung tiga aspek (kognitif, perilaku, keterampilan).

“Saya setuju UN, sepanjang tidak dimaksudkan untuk penentu kelulusan, tapi hanya sebagai alat pemetaan kualitas dan hanya menjadi milik pemerintah. Kalau kurikulum baru diterapkan, tapi evaluasinya menggunakan UN berarti ada inkonsistensi,” kata pengamat pendidikan Darmaningtyas.

Sebagai alat pemetaan, pelaksanaan UN tidak mesti di ujung (kelas akhir), tapi bisa di tahun kedua. Pelaksanaannya juga tidak harus tiap tahun, tapi bisa dua tahun sekali.

“Hasilnya, sekolah yang nilai hasil UN-nya rendah, justru harus didukung dengan dukungan anggaran dan program. Pada tingkat tertentu, akan terjadi pemerataan kualitas pendidikan. Kalau seperti sekarang, hasil UN justru memicu kesenjangan antara sekolah maju dan sekolah pinggiran. Yang menjadi korban adalah sekolah pinggiran,” tandasnya.

Dengan cara itu, pendidikan akan berkontribusi dalam terciptanya ketahanan nasional dan ketahanan sosial. Kalau pendidikan hanya memicu kesenjangan, maka akan muncul kecemburuan dan hilangnya solidaritas antara si kaya dan si miskin.

Hal senada juga disampaikan peneliti JPIP dan Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Jatim, Nur Hidayat. “Perhatian terhadap UN membuat pemerintah lalai memenuhi kebutuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan dan mengabaikan peningkatan kualitas guru,” ujarnya.

Menurut dia, rapat kerja nasional (rakernas) Depdiknas pada 15-17 Juli 2003 menetapkan sekolah sebagai penyelenggara UAN (UN) mulai 2004 dan Depdiknas hanya memberikan pedoman dan beberapa materi soal UAN/UN yang harus diujikan sekolah sesuai dengan standar nasional dan tidak ada lagi UAN/UN ulangan.

“Maksud pemberian wewenang kepada sekolah itu adalah mutu lulusan sekolah meningkat melalui pemberian soal UAN/UN. Ujian sekolah pun tidak lagi berupa soal pilihan ganda, tapi jawaban tertulis (esai),” ucapnya, menegaskan.

Ketetapan/keputusan lain, Depdiknas membentuk Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) yang bertugas menilai pelaksanaan UAN/UN di sekolah. Jika sekolah tidak serius melaksanakan UAN, maka akreditasi sekolah dinyatakan rendah.

“Keputusan untuk mengembalikan UAN/UN ke sekolah dan pemerintah hanya melakukan pemantauan mutu UAN/UN di sekolah tersebut, sebenarnya amat sejalan dengan semangat desentralisasi pendidikan dan UU Sisdiknas,” tuturnya.

Saat ini, semangat itu ada lagi. Ada usulan UN dilaksanakan di tingkat daerah, ada juga usulan UN meniru UKG dengan “UN online” (daring). Semangat itu diyakini akan mengembalikan pelaksanaan UN yang otonom dan akuntabel serta menjauhkan dari praktik tidak terpuji (bocor).

Ketika dikonfirmasi tentang perubahan UN dalam Kurikulum 2013, staf khusus Mendikbud, Sukemi, menegaskan bahwa UN pasti akan berubah, karena unsur penilaian dalam Kurikulum 2013 juga berubah.

“Tapi, tentu tidak serta merta, karena Kurikulum 2013 diterapkan bertahap dan siswa yang menerima Kurikulum 2013 untuk pertama kalinya baru kelas satu SD, SMP, dan SMA. Jadi, kurikulum baru itu akan benar-benar berlaku untuk semuanya dalam kurun tiga tahun,” katanya.

Terkait bentuk perubahan UN itu, ia menambahkan Kemdikbud berencana menggelar Konvensi Nasional tentang sistem pendidikan. “Nanti, semuanya akan dibicarakan, termasuk UN itu,” tukasnya.

Agaknya, Konvensi Nasional Pendidikan akan dapat menjadi jawaban untuk menyempurnakan posisi Kurikulum 2013, termasuk jika penyempurnaan itu memerlukan waktu (penundaan setahun) dan evaluasi UN, sebab Kurikulum 2013 harus menjadi “kado” bagi bangsa ini.

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/375517/catatan-kritis-untuk-kurikulum-2013

Tahun Ini, 16.616 Siswa SMP Tak Lulus UN

2

JAKARTA, KOMPAS.com — Mendikbud Mohammad Nuh menyatakan, sebanyak 16.616 siswa di jenjang SMP/MTs tidak lulus ujian nasional (UN) 2013. Sementara jumlah siswa yang lulus UN mencapai 3.650.625 siswa.

“Buat yang tidak lulus jangan berkecil hati, bisa ikut ujian Paket B dan hasilnya bisa dipakai untuk masuk ke SMA,” pesan Nuh, di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Dalam persentase, kelulusan UN di tingkat SMP juga turun sekitar 0,02 persen. Tahun lalu mencapai 99,57 persen dan tahun ini hanya 99,55 persen. Tahun ini, jumlah siswa yang mengikuti UN di tingkat SMP sebanyak 3.667.241 siswa.

Nuh juga berpesan agar para siswa yang lulus tidak terlalu larut dalam suasana yang di luar kontrol. Ia meminta semuanya merayakan UN dengan hal-hal yang positif.

“Jangan terlalu hura-hura. Tapi, tahun ini sudah bagus, anak-anak lebih simpatik, merayakan kelulusan dengan aksi-aksi sosial,” tandasnya.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2013/05/31/16022730/Tahun.Ini..16.616.Siswa.SMP.Tak.Lulus.UN.

Ini 12 Siswa Peraih Nilai UN SMP Tertinggi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada ujian nasional (UN) kali ini, siswa dari Jakarta berhasil mengungguli tiga juta siswa para peserta UN beberapa waktu lalu. Dengan nilai rerata UN murni 9,90, Stella Angelina berhasil menjadi siswa dengan nilai rerata UN murni tertinggi se-Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengungkapkan apresiasinya pada prestasi yang diraih oleh siswa asal Jakarta ini. Pihak Kemendikbud juga telah menyiapkan penghargaan serta beasiswa untuk para siswa berprestasi ini “Kami tentu akan berikan penghargaan dan beasiswa bagi para siswa yang berprestasi ini. Nantinya mereka juga akan dimudahkan akses untuk ke SMA/SMK/MA,” kata Nuh saat jumpa pers Hasil UN SMP/MTs di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Jumat (31/5/2013). Berikut 12 nama siswa yang berhasil menjadi siswa dengan nilai rerata UN murni terbaik tahun ini: 1. Stella Angelina dari SMP Kasih Karunia Jakarta (9,90). 2. Petra Julian Abigail dari SMP Tarakanita 4 Jakarta (9,90). 3. Anak Agung Ayu Vira Sonia dari SMP Negeri 1 Denpasar (9,90). 4. Jessica Jane dari SMP Kristen 1 BPK Penabur Jakarta (9,89). 5. Shofiya Qurrotu’ayunin dari MTs Negeri 1 Malang (9,85). 6. Cahaya Carla Bangsawan dari SMP Negeri 2 Bandar Lampung (9,85). 7. Kirana Widiani Lestari dari SMP Negeri 85 Jakarta (9,84). 8. Setiati Nur Chasanah dari SMP Negeri 1 Magelang (9,84). 9. Maratus Solichah dari SMP Negeri 1 Salaman ( 9,84). 10. Farrel Gerard Adeovinson Rey dari SMP Masehi Temanggung (9,84). 11. Juligo Al Paraby Saragih SMP Swasta Al-Muslimin Pandan Tapanuli (9,84). 12. Biani Masita Himawan dari SMP Negeri 1 Denpasar (9,84).

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2013/06/01/0935141/Ini.12.Siswa.Peraih.Nilai.UN.SMP.Tertinggi

Nilai Rata-rata UN SMP Turun, Cuma 6,1

1

JAKARTA, KOMPAS.com – Nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) 2013 untuk tingkat SMP/MTs turun. Tahun lalu, nilai rata-rata ujian nasional di jenjang ini mencapai 7,47, sementara tahun ini hanya 6,1.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh mengungkapkan analisis terhadap penurunan nilai rerata ini. Menurutnya, ini dipengaruhi bobot soal tahun antara tahun lalu dan tahun ini.

“Memang turun 1,37 nilai rerata UN murni untuk jenjang SMP/MTs kali ini,” kata Nuh saat jumpa pers di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Pada tahun ini, lanjutnya, bobot soal yang sulit naik menjadi 20 persen sedangkan pada tahun lalu bobot soal yang sulit jumlahnya hanya mencapai 10 persen saja dari keseluruhan soal.

“Jadi kalau nilai itu 1,37 itu, analisa kami bobot soal yang sulit karena kami naikan. Dari 10 persen jadi 20 persen,” ungkapnya.

Namun menurutnya, kenaikan bobot soal ini dinilai wajar. Pasalnya, selama ini nilai batas kelulusan sudah sampai pada batas yang sesuai yaitu 5,5 sehingga yang memungkinkan untuk perbaikan adalah dengan menaikkan bobot soal tersebut.

“Dinaikkan itu kan maksudnya agar tambah baik lagi. Jadi tidak apa, dengan demikian ke depannya harus lebih siap lagi,” tandasnya.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2013/05/31/16284047/Nilai.Ratarata.UN.SMP.Turun..Cuma.6.1