MEMBEDAH ASPEK PROFESIONALISME GURU DARI SEGI KOMPETENSI

MEMBEDAH ASPEK PROFESIONALISME GURU DARI SEGI KOMPETENSI

 

 

 

 

Ika Meilana

Universitas Negeri Surabaya

Abstract

Effort to improve the quality of education in Indonesia always to be done by the government. One is with the professionalism of teachers. In the framework of teacher professionalism, one very important thing is improve teacher competence. By increasing the competence of teachers, the teachers in Indonesia will be a professional teacher. The competence of theachers are pedagogical competence, personalality competence, profesional competence, and social competence. If the teachers in Indonesia have the four competence, the teachers will be profesional teachers and can increase the quality of education in Indonesia. In this paper, the first will be discussed about the professionalism of teachers, and the second will discuss about the competence of teachers should be have so that teachers can become professional teachers.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapanpun dan dimanapun ia berada. Pendidikan merupakan proses pengembangan manusia kearah kearifan, pengetahuan, dan etika. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia.

Sebuah kesadaran bahwa tolak ukur keberhasilan suatu bangsa sangat tergantung kepada kualitas Sumber Daya Manusia, bahwa perjalanan panjang untuk memberdayakan anak bangsa bermuara pada kenyataan yang tak terelakkan dan segalanya harus dimulai dari pendidikan. Oleh sebab itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembagunan bangsa dan negara. Begitu juga Indonesia,  yang menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama.

Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah yang berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan. Dengan hal tersebut, maka guru mempunyai misi dan tugas yang berat, namun mulia dalam mengantarkan tunas-tunas bangsa ke puncak cita-cita. Oleh karena itu, sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan kompetensi tersebut, maka para guru akan menjadi guru yang profesional, baik secara akademis maupun nonakademis.

Dengan fenomena tersebut, maka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia sangatlah dibutuhkan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, salah satu cara yang bisa ditempuh yaitu dengan meningkatkan kompetensi guru sehingga para guru di Indonesia dapat menjadi guru yang profesional. Dan dengan begitu profesionalisme guru akan terwujud, sehingga kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat melalui meningkatnya kualitas guru yang diikuti oleh meningkatnya kualitas peserta didik di Indonesia. Dengan terwujudnya profesioanlisme guru maka para guru di Indonesia dapat menghasilkan output sekolah yang memiliki kualitas intelektual tinggi dan mempunyai integritas moral yang kuat. Oleh karena itu, sesuai dengan judul dari artikel ini yaitu MEMBEDAH ASPEK PROFESIONALISME GURU DARI SEGI KOMPETENSI, maka dalam artikel ini akan dibahas mengenai pengertian profesionalisme guru dan kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh guru profesional. Sehingga nantinya kita akan mengetahui tentang  profesionalisme guru dan kita juga akan mengetahui kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yang profesional. Karena, hakikat dari membedah aspek profesionalisme guru adalah mengkaji kompeteni yang harus dimiliki oleh seorang guru sehingga guru tersebut dapat menjadi guru yang profesional.

 

  1. 1.        PROFESONALISME

1.1  Pengertian Profesionalisme

Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif, (Kunandar, 2007:46).

Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui pendidikan dan pelatihan secara khusus. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memeuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam Kunandar, 2007:45).

Profesi menunjukkan lapangan yang khusus dan mensyaratkan studi dan penguasaan pengetahuan yang mendalam, seperti bidang hukum, militer, keperawatan, kependidikan, dan sebagainya. Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dlakukan oleh mereka khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain (Nana Sudjana dalam Kunandar, 2007:46). Profesi seseorang yang mendalami hukum, seperti jaksa, hakim, dan pengacara. Profesi seseorang yang mendalami keperawatan adalah perawat. Sementara itu, seseorang yang menggeluti dunia pendidikan (mendidik dan mengajar) adalah guru, dan berbagai profesi lainnya.

Berdasarkan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu keahlian (skill) dan kewenangan dalam suatu jabatan tertentu yang mensyaratkan kompetensi (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) tertentu secara khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Profesi biasanya berkaitan dengan mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensayaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna.

Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni:

  1. Menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
  2. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
  3. Menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai.
  4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
  5. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan (Moh. Ali dalam Kunandar, 2007:47).

Selain persyaratan diatas, Usman dalam Kunandar (2007:47) menambahkan persyaratan lain yaitu:

  1. Memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya
  2. Memiliki klien/objek layanan yang tetap, seperti dokter dengan pasiennya, dan guru dengan muridnya.
  3. Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.

 

Sehingga jika disimpulkan profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang.

 

1.2  Profesionalisme guru

Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.

Surya dalam Kunandar (2007:48) berpendapat bahwa profesionalisme guru mempunyai makna penting yaitu:

  1. Profesionalisme memberikan jaminan pelindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum.
  2. Profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat rendah.
  3. Profesionalime memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya. Kualitas profesionalisme ditunjukkan oleh lima sikap yakni: (1) keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal; (2) meningkatkan dan memelihara citra profesi; (3) keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya; (4) mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi; (5) memiliki kebanggan terhadap profesinya.

 

Dengan profesionalisme guru, maka guru masa depan tidak tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, tetapi berlih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager). Sebagai pelatih, seorang guru akan berperan seperti pelatih olahraga. Ia mendorong siswanya untuk mengauasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya dan membantu siswa menghargai nilai belajar dan pengetahuan. Sebagai pembimbing atau konselor, guru akan berperan sebagai sahabat siswa, menjadi teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa. Sebagai manajer belajar, guru akan membimbing siswanya belajar, mengambil prakarsa, dan mengeluarkan ide-ide baik yang dimilikinya. Dengan ketiga peran guru ini, maka diharapkan para siswa mampu mengembangkan potensi dirinya masing-masing, mengembangkan kreativitas, dan mendorong adanya penemuan keilmuan dan teknologi yang inovatif sehingga para siswa mampu bersaing dalam masyarakat global.

 

  1. 2.        KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

2.1 Pengertian Kompetensi

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (WJS. Purwadarminta) kompetensi berarti kewenangan kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi (competency) yakni kemampuan atau kecakapan.

Istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna sebagaimana yang dikemukakan berikut:

Broke and Stone dalam Usman (2006:14) berpendapat bahwa kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti.

Mc. Leod dalam Usman (2006:14) menyatakan bahwa kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.

Menurut Usman dalam Kunandar (2007:51), kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. Pengertian ini mengandung makna bahwa kompetensi itu dapat digunakan dalam dua konteks, yakni:

  1. Sebagai indikator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati.
  2. Sebagai konsep yang mencakupaspek-aspek kognitif, afektif, dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanaanya secara utuh (Joni dalam Kunandar, 2007:52)

Sementara itu kompetensi menurut Kepmendiknas 045/U/2002 adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

Lebih lanjut Gordon, Mulyasa dalam Kunandar (2007:53) merinci beberapa aspek atau ranah yang ada dalam konsep kompetensi yakni:

  1. Pengetahuan (knowledge) yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya.
  2. Pemahaman (understanding) yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik agar dapat melaksanakan pmbelajaran secara efektif dan efisien.
  3. Kemampuan (skill) yaitu sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya kemampuan guru dalam memilih, dan membuat alat peraga sederhana untuk memberi kemudahan belajar peserta kepada peserta didik.
  4. Nilai yaitu suat standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya standar perilaku guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain).
  5. Sikap yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan sebagainya.
  6. Minat (interest) yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya minat untuk mempelajari atau melakukan sesuatu. Seseorang dianggap kompeten apabila telah memenuhi persyaratan: (1) landasan kemampuan pengembangan kepribadian; (2) kemampuan penguasaan ilmu dan keterampilan; (3) kemampuan berkarya (know to do); (4) kemampuan menyikapi dan berperilaku dalam berkarya sehingga dapat mandiri, menilai, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab; (5) dapat hidup bermasyarakat dengan bekerja sama, saling menghormati dan menghargai nilai-nilai pluralisme serta kedamaian (Pusposutardjo dalam Kunandar, 2007:53)

 

2.2 Kompetensi Guru

Kompetensi guru merupakan kemampuan sesorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggungjawab dan layak.

Usman (2006:14) mengungkapkan bahwa kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.

Majid (2005:6) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman.

Kunandar (2007:55) mengungkapkan bahwa pengertian dari kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Kompetensi guru tersebut meliputi:

  1. Kompetensi intelektual yaitu berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk menunjang berbagai aspek kinerja sebagai guru.
  2. Kompetensi fisik yaitu perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas sebagai guru dalam berbagai situasi.
  3. Kompetensi pribadi yaitu perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, dan pemahaman diri. Kompetensi pribadi meliputi kemampuan-kemampuan dalam memahami diri, mengelola diri, mengendalikan diri, dan menghargai diri.
  4. Kompetensi sosial yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta tercapainya interaksi sosial secara efektif. Kompetensi sosial meliputi kemampuan interaktif, dan pemecahan masalah kehidupan sosial.
  5. Kompetensi spiritual yaitu pemahaman, penghayatan, serta pengamalan kaidah-kaidah keagamaan.

 

Usman, (2006:16) menguraikan jenis-jenis kompetensi guru sebagai berikut:

  1. 1.      Kompetensi pribadi

Kemampuan pribadi ini meliputi hal-hal berikut:

  1. Mengembangkan kepribadian

1)      Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

a)    Mengkaji ajaran agama yang dianut.

b)   Mengamalkan ajaran-ajaran agama yang dianut.

c)    Menghayati peristiwa yang mencerminkan sikap saling menghargai antarumat beragama.

2)      Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila

a)      Mengkaji berbagai ciri manusia Pancasila

b)      Mengkaji sifat-sifat kepatriotan bangsa Indonesia.

c)      Menghayati urunan para para patriot dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdakaan.

d)     Membiasakan diri menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan.

e)      Mengkaji hubungan manusia dengan lingkungan alamiah dan buatan.

f)       Membiasakan diri menghargai dan memelihara mutu lingkungan hidup.

 

  1. Berinteraksi dan berkomunikasi

1)      Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional:

a)      mengkaji ajaran struktur organisasi Depdikbud

b)      mengkaji hubungan kerja profesional

c)      berlatih menerima dan memberikan balikan

d)     membiasakan diri mengikuti perkembangan profesi.

 

2)      Berinteraksi dengan masyarakat untuk penunaian misi pendidikan

a)      mengkaji berbagai lembaga kemasyarakatan yang berkaitan dengan pendidikan

b)      berlatih menyelenggarakan kegiatan kemasyarakatan yang menunjang usaha pendidikan.

  1. Melaksnakan bimbingan dan penyuluhan

1)      Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan

a)      Mengkaji konsep-konsep dasar bimbingan.

b)      Berlatih mengenal kesulitan belajar murid.

c)      Berlatih memberikan bimbingan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.

2)      Membimbing murid yang berkelainan dan berbakat khusus.

a)      Mengkaji ciri-ciri anak berkelainan dan berbakat khusus.

b)      Berlatih menegnal anak berkelainan dan berbakat khusus.

c)      Berlatih menyelenggarakan kegiatan untuk anak anak berkelainan dan berbakat khusus.

  1. Melaksanakan administrasi sekolah

1)      Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah.

a)      Mengkaji berbagai jenis dan sarana administrasi sekolah.

b)      Mengkaji pedoman administrasi pendidikan.

2)      Melaksanakan kegiatan administrasi sekolah

a)      Berlatih membuat dan mengisi berbagai format administrasi sekolah.

b)      Berlatih menyelenggarakan administrasi sekolah.

  1. Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.

1)      Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah

a)      Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah yang sederhana.

b)      Memahami laporan penelitian sederhana untuk kepentingan pengajaran.

2)      Melaksanakan penelitian sederhana.

a)      Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.

b)      Membiasakan diri melakukan penelitian untuk keperluan pengajaran.

 

  1. 2.      Kompetensi profesional

Kemampuan profesional ini meliputi hal-hal berikut:

  1. Menguasai landasan kependidikan

1)      Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

a)      Mengkaji tujuan pendidikan nasional.

b)      Mengkaji tujuan pendidikan dasar dan menengah.

c)      Meneliti kaitan antara tujuan pendidikan dasar dan menengah dengan tujuan pendidikan nasional.

d)     Mengkaji kegiatan-kegiatan pengajaran yang menunjang pencapaian tujuan pendidiklan nasional.

2)      Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat

a)      Mengkaji peranan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

b)      Mengkaji peristiwa-peristiwa yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

c)      Mengelola kegiatan sekolah yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

3)      Menegnal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.

a)      Mengkaji jenis perbuatan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

b)      Mengkaji prinsip-prinsip belajar.

c)      Menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan belajar mengajar.

  1. Menguasai bahan pengajaran

1)      Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

a)      Mengkaji kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

b)      Menelaah buku teks pendidikan dasar dan menengah.

c)      Menelaah buku pedoman khusus bidang studi.

d)     Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dinyatakan dalam buku teks dan buku pedoman khusus.

2)      Menguasai bahan pengajaran

a)      Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan bahan bidang studi/mata pelajaran.

b)      Mengkaji bahan penunjang yang relevan denagn profesi guru.

  1. Menyusun program pengajaran

1)      Menetapkan tujuan pembelajaran

a)      Mengkaji ciri-ciri tujuan pembelajaran.

b)      Dapat merumuskan tujuan pembelajaran.

c)      Menetapkan tujuan pembelajaran untuk satu satuan pembelajaran/ pokok bahasan.

2)      Memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran

a)      Dapat memilih bahan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

b)      Mengembangkan bahan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

3)      Memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar

a)      Mengkaji berbagai metode mengajar.

b)      Dapat memilih metode mengajar yang tepat.

c)      Merancang prosedur belajar menagajar yang tepat.

4)      Memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai.

a)      Mengkaji berbagai media pengajaran.

b)      Memilih media pengajaran yang tepat.

c)      Membuat media pengajaran yang sederhana.

d)     Menggunakan media pengajaran.

5)      Memilih dan memanfaatkan sumber belajar.

a)      Mengkaji berbagai jenis dan kegunaan sumber belajar.

b)      Memanfaatkan smber belajar yang tepat.

  1. Melaksanakan program pengajaran.

1)      Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat.

a)      Mengkaji prinsip-prinsip pengelolaan kelas.

b)      Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar.

c)      Menciptakan suasana belajar mengajar yang baik.

d)     Menangani masalah pengajaran dan pengelolaan.

2)      Mengatur ruangan belajar.

a)      Mengkaji berbagai tata ruang belajar.

b)      Mengkaji kegunaan sarana dan prasarana kelas.

c)      Mengatur ruang belajar yang tepat.

3)      Mengelola interaksi belajar mengajar.

a)      Mengkaji cara-cara mengamati kegiatan belajar mengajar.

b)      Dapat mengamati kegiatan belajar mengajar.

c)      Menguasai berbagai keterampilan dasar mengajar.

d)     Dapat mengatur murid dalam kegiatan belajar mengajar.

  1. Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.

1)      Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran.

a)      Mengkaji konsep dasar penilaian.

b)      Mengkaji berbagai teknik penilaian.

c)      Menyusun alat penilaian.

d)     Mengkaji cara mengolah dan menafsirkan data untuk menetapkan taraf pencapaian murid.

e)      Dapat menyelenggarakan penilaian pencapaian murud.

2)      Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.

a)      Menyelenggarakan penilaian untuk perbaikan proses belajar mengajar.

b)      Dapat memanfaatkan hasil enilaian untuk perbaikan proses belajar mengajar.

Demikian tentang tugas, peranan dan kompetensi guru yang merupakan landasan dalam mengabdikan profesinya. Guru yang profesioanal tidak hanya mengetahui, tetapi betul-betul melaksanakan apa-apa yang menjadi tugas dan peranannya. selanjutnya pada bab-bab berikut dibahas tentang hal-hal yang berkena dengan asas, teknik serta evaluasi kemampuan guru dalam mengajar yang merupakan tugas guru dalam bidang profesi. Hal ini perlu dikemukakan mengingat merupakan salah satu upaya dalam mengingatkan mutu profesional guru.

Namun, menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) dalam (http://rastodio.com/pendidikan/pengertian-kompetensi-guru.html), kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Penjelasan mengenai kompetensi tersebut antara lain:

  1. 1.      Kompetensi Pedagogik

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dalam Mulyasa (2008:75) dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

  1. Kemampuan mengelola Pembelajaran

Secara pedagogis, kompetensi guru-guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini penting karena pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat, dinilai kering dari aspek pedagogis, dan sekolah nampak lebih mekanis sehingga peserta didik cenderung kerdil karena tidak mempunyai dunianya sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung yakni hubungan guru dengan peserta didik disemua tingkatan identik dengan watak bercerita. Peserta didik dipandang sebagai bejana yang akan diisi air (ilmu) oleh gurunya. Oleh karena itu, pembelajaran yang berlangsung cenderung monoton dan kurang menarik minat peserta didik untuk belajar. Sehubungan dengan itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam mengelola pembelajaran, dan mengubah paradigma pembelajaran tersebut dengan pembelajaran yang dialogis dan bermakna. Secara operaional, Mulyasa (2008:77) mengungkapkan bahwa kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu:

(1)   Perencanaan yang menyangkut penetapan tujuan dan kompetensi serta memperkirakan cara mencapainya.

(2)   Pelaksanaan atau sering juga disebut dengan implementasi yaitu proses yang memberikan kepastian bahwaproses belajar mengajar telah memiliki sumber daya manusia dan sarana prasarana yang diperlukan, sehingga dapat membentuk kmpetensi dan mencapai tujuan yang diinginkan.

(3)   Pengendalian atau ada juga yang menyebut evaluasi dan pengendalian, bertujuan menjamin kinerja yang dicapai sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditetapkan.

 

Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif, serta mencapai hasil yang diharapkan, diperlukan kegiatan manajemen sistem pembelajaran, sebagai keseluruhan proses untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara efektif.

Guru diharapkan membimbing dan mengarahkan pengembangan kurikulum dan pembelajaran secara efektif, serta melakukan pengawasan dalam pelaksanaannya. Dalam proses pengembangan program, guru hendaknya tidak membatasi diri pada pembelajaran dalam arti sempit, tetapi harus menghubungkan program-program pembelajaran dengan seluruh kehidupan peserta didik kebutuhan masyarakat, dan dunia usaha.

 

  1. Pemahaman terhadap peserta didik

Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru. Sedikitnya terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu tingkat kecerdasan, kreativitas, cacat fisik, dan perkembangan kognitif.

 

  1. Perancangan pembelajaran

Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran. Perancangan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga kegiatan yaitu identifkasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.

 

  1. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.

Kegagalan pelaksanaan pembelajaran sebagian besar disebabkan oleh penerapan metode pendidikan konvensional, anti dialog, proses penjinakan, pewarisan pengetahuan, dan tidak bersumber pada realitas masyarakat. Sehubungan dengan itu, salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru seperti dirumuskan dalam SNP berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran.

Freire dalam Mulyasa (2008:103) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang yang mendidik dan dialogis merupakan respon terhadap praktek pendidikan anti realitas, harus diarahkan pada proses hadap masalah. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal yaitu pre tes, proses, dan post tes.

 

  1. Pemanfaatan teknologi pembelajaran

Di era globalisasi ini, pengetahuan, informasi, dan teknologi dalam berbagi aspek kehidupan mengalami perkembangan serta kemajuan yang sangat pesat. Dalam abad ini, terjadi dan berlangsung perainagn hidup yang sangat ketat, siapa yang menguasai pengetahuan, teknologi, dan informasi dialah yang akan menguasai hidup secara survival. Oleh karena itu, sudah sewajarnya apabila dalam abad ini, guru dituntu untuk memiliki kompetensi dalam pemanfaatan teknologi pembelajaranterutama internet, agar dia mampu memanfaatkan berbagai pengetahuan, teknologi, dan informasi dalam melaksanakan tugas utamanya mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik.

Penggunaan teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran dimaksudkan untuk memudahkan atau mengefektifkan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memiliki kemampuan menggunakan dan mempersiapkan materi pembelajaran dalam suatu sistem jaringan komputer yang dapat diakses oleh peserta didik. Oleh karena itu, seyogyanya guru dan calon guru dibekali dengan berbagai kompetensi yang berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai teknologi pembelajaran.

 

 

  1. Evaluasi hasil belajar

       Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik serta perkembangan kompetensi peserta didik. Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, serta penilaian program.

 

  1. Pengembangan peserta didik

       Pengembangan peserta didik meruakan bagian dari kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru, untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Pengembangan peserta didik dapat dilakukan guru melalui berbagai cara, antara lain melalui kegiatan ekstrakurikuler, pengayaan dan remidial, serta bimbingan dan konseling (BK).

 

  1. 2.      Kompetensi kepribadian

       Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP), penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b dalam Mulyasa (2008:117) dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berahlak mulia.

       Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik. Ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam membentuk pribadinya. Semua itu menunjukkan bahwa kompetensi personal atau kepribadian guru sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembentukkan pribadinya.

       Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa pada umumnya.

       Dalam hal  ini, guru tidak hanya dituntut mampu memaknai pembelajaran, tetapi yang paling penting adalah bagaimana dia menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.

 

  1. Kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa

       Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan, guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa. Hal ini penting karena banyak masalah pendidikan yang disebabkan oleh faktor kepribadian guru yang kurang mantap, kurang stabil, dan kurang dewasa. Kondisi kepribadian yang demikian sering membuat guru melakukan tindakan-tindakan yang tidak profesional, tidak terpuji, bahkan tindakan-tindakan tidak senonoh yang merusak citra dan martabat guru. Untuk itu, sangat dibutuhkanlah kepribadian yang mabtab, stabil, dan dewasa bagi seorang guru.

 

  1. Disiplin, arif, dan berwibawa

       Guru harus memiliki pribadi yang disiplin, arif, dan bermibawa. Hal ini penting karena masih sering kita menyaksikan dan mendengar peserta didik yang perilakunya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan sikap moral yang baik. Misalnya merokok, membolos, tidak mengerjakan PR, melawan guru, berkelahi, membuat keributan di kelas, bahkan melakukan tindakan yang menjurus pada hal-hal yang bersifat kriminal. Dengan kata lain, masih banyak peserta didik yang tidak disiplin dan menghambat jalannya pembelajaran. Kondisi tersebut menuntut guru untuk bersikap disiplin, arif, dan berwibawa dalam egala tindakan dan perilakunya, serta senantiasa mendisiplinkan peserta didik agar dapat mendongkrak kualitas pembelajaran.

       Dalam pendidikan, mendisipinkan peserta didik harus dimulai dengan pribadi guru yang disiplin, arif, dan berwibawa. Kita tidak bisa berharap banyak akan terbentuk peserta didik yang disiplin dari pribadi guru yang kurang disiplin, kurang arif, dan kurang berwibawa. Oleh karena itu, saatnya para guru membina disiplin peserta didik dengan pribadinya yang displin, arif, dan berwibawa. Dalam hal ini disiplin harus ditujukan untuk membantu peserta didik menemukan jati diri, mengatasi, mencegah timbulnya masalah disiplin, dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran, sehingga mereka mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan.

 

  1. Menjadi teladan bagi peserta didik

       Guru merupakan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didk serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap dan mengakuinya sebagai guru. Untuk itu, guru dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik sehingga apa yang dia lakukan bisa dijadikan teladan bagi peserta didik dan orang-orang di sekitar lingkungannya.

 

  1. Berakhlak mulia

       Guru harus berakhlak mulia, karena ia adalah seorang penasehat bagi peserta didk meskipun guru tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat. Setiap guru pada tingkat manapun akan menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan yang harus berakhlak mulia, kegiatan pembelajaran pun meletakkannya pada posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari pada gurunya atau dengan kata lain akan meminta nasehat serta pendapat dari gurunya. Makin efektif guru menangani setiap permasalahan, semakin banyak kemungkinan peserta didik yang akan meminta nasehat dan kepercayaan diri. Disinilah pentingnya guru berakhlak mulia.

 

 

  1. 3.      Kompetensi Profesional

         Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP), penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dalam Mulyasa (2008:135) dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi Standar Kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

  1. Ruang lingkup kompetensi profesional

          Secara umum, dapat diidentifikasikan tentang ruang lingkup kompetensi profesional guru ebagai berikut:

(1)          Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi,

          psikologi, sosiologis, dan sebagainya.

(2)          Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan

          peserta didik.

(3)          Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi

          tanggung jawabnya.

(4)          Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi.

(5)          Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media, dan

          sumber belajar yang relevan.

(6)          Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran.

(7)          Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik.

(8)          Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik.

 

          Secara lebih khusus, kopmetensi profesional guru dapat dijabarkan sebagai berikut:

(1)   Memahami Standar Nasional Pendidikan

(2)   Mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(3)   Menguasai materi standar

(4)   Mengelola program pembelajaran

(5)   Mengelola kelas

(6)   Menggunakan media dan sumber pembelajaran

(7)   Menguasai landasan-landasan kependidikan

(8)   Memahami dan melaksanakan pengembangan peserta didik

(9)   Memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah

(10)      Memahami penelitian dalam pembelajaran

(11)      Menampilkan keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran

(12)      Mengembangkan teori dan konsep dasar kependidikan

(13)      Memahami dan melaksanakan konsep pembelajaran individual

 

  1. Memahami jenis-jenis materi pembelajaran

          Seorang guru harus memahami jenis-jenis materi pembelajaran. Beberapa hal penting yang harus dimiliki guru adalah kemampuan menjabarkan materi standar dalam kurikulum. Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu menentukan secara tepat materi yang relevan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Menurut Hasan dalam Mulyasa (2008:139), beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih dan menentukan materi standar yang akan diajarkan kepada peserta didik adalah validitas atau tingkat ketetapan materi, keberartian atau tingkat kepentingan materi tersebut dikaitkan dengan kebuthan dan kemampuan peserta didik, relevansi, kemenarikan, dan kepuasan.

 

  1. Mengurutkan materi pembelajaran

          Agar pembelajaran dapat dilakukan secara efektif dan menyenangkan, materi pembelajaran harus diurutkan sedemikian rupa, serta dijelaskan mengenai batasan dan ruang lingkupnya. Dengan begitu, proses pembelajaran akan berjalan secara efektif dan peserta didik dapat mengembangkan kompetensinya secara optimal.

 

  1. Mengorganisasikan materi pembelajaran

          Seorang guru dituntut untuk menjadi ahli penyebar informasi yang baik, karena tugas utamanya antara lain menyampaikan informasi kepada peserta didik. Disamping itu, guru juga berperan sebagai perencana, pelaksana, dan penilai materi pembelajaran. Apabila pembelajaran diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pribadi peserta didik dengan penyediaan ilmu yang tepat dan latihan keterampilan yang mereka perlukan, haruslah ada ketergantungan terhadap materi pembelajaran yang efektif dan terorganisasi. Untuk itu, diperlukan peran baru dari para guru, mereka dituntut memiliki keterampilan-keterampilan teknis yang memungkinkan untuk menorganiasikan bahan pembelajaran serta menyampaikannya kepada peserta didik dalam proses pembelajaran.

 

  1. Mendayagunakan sumber pembelajaran

          Dalam pembelajaran di sekolah, untuk memperoleh hasil yang optimal dituntut tidak hanya mengandalkan terhadap apa yang ada di dalam kelas, tetapi harus mampu dan mau menelusuri berbagai sumber pembelajaran yang diperlukan. Guru dituntut tidak hanya mendayagunakan sumber-sumber pembelajaran yang ada di sekolah tetapi dituntut untuk mempelajari bebagai sumber. Hal ini penting, agar apa yang dipelajari sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat, sehingga tidak terjadi kesenjangan dalam pola pikir peserta didik.

 

  1. Memilih dan menentukan materi pembelajaran

 

  1. 4.    Kompetensi Sosial

       Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d dalam Mulyasa (2008:173) dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenagan kependidikan, orang tua/ali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

       Guru adalah makhluk sosial, yang dalam kehidpannya tidak bisa terlepas dari kehidupan sosial masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi sosial yang memadai, terutama dalam kaitannyan dengan pendidikan, yang tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah tetapi juga pada pendidikan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat.

 

  1. Berkomunikasi dan bergaul secara efektif

        Kompetensi sosial guru memegang peranan penting. Karena sebagai pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melaluai kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olahraga, keagamaan, dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.

        Jika di sekolah guru diamati dan dinilai oleh peserta didik, dan teman sejawat serta atasannya, maka di masyarakat dinilai dan diawasi oleh masyarakat. Sedikitnya tujuh kompetensi sosial yang harus dimliki guru agar dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif, baik di sekolah maupun di masyarakat. Ketujuh kompetensi tersebut yaitu:

(1)      Memiliki pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama

(2)      Memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi

(3)      Memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi

(4)      Memiliki pengetahuan  tentang estetika

(5)      Memiliki apresiasi dan kesadaran sosial

(6)      Memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan

(7)      Setia terhadap harkat dan martabat manusia

 

  1. Hubungan sekolah dengan masyarakat

        Sekolah berada di tengah-tengah masyarakat dan dapat dikatakan berfungsi sebagai pisau bermata dua. Mata yang pertama dalah menjaga kelestarian nilai-nilai yang positif yang ada dalam masyarakat, agar pewarisan nilai-nilai masyarakat itu berlangsung dengan baik. Mata yang kedua adalah sebagai lembaga yang dapat mendorong perubahan nilai dan tradisi itu sesuai dengan kemajuan dan tuntutan kehidupan serta pembangunan. Nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan tetap dijaga kelestariannya, sedangkan yang tidak sesuai harus diubah. Pelaksanaan fungsi sekolah ini, terlebih-lebih sekolah menengah yang berada di tengah-tengah masayarakat terpencil, menjadi tumpukan harapan masyarakat untuk kemajuan mereka. Untuk dapat menjalankan fungsi ini hubungan sekolah-msayrakat harus selalu baik. Dengan demikian terdapat kerja sama serta situasi saling membantu antara sekolah dan masyarakat. Husemas adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan dan kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerja sama dalam peningkatan dan pengembangan sekolah. Husemas ini merupakan usaha koperatif untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling pengertian antara sekolah, personel sekolah dengan masyarakat.

  1. Peran guru di masyarakat

Guru merupakan kunci penting dalam kegiatan hubngan sekolah dengan masyarakat. Oleh karena itu ia harus memiliki kompetensi untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut.

(1)   Membantu sekolah dalam melaksanakan teknik-teknik Husemas.

(2)   Membuat dirinya lebih baik lagi dalam bermasyarakat.

(3)   Dalam melaksanakan semua itu guru harus melaksanakan kode etiknya.

 

  1. Guru sebagai agen perubahan sosial

       UNESCO mengungkapakan bahwa guru adalah agen perubahan yang mampu mendorong terhadap pemahaman dan toleransi, dan tidak sekedar hanya menerdaskan peserta didik tetapi mampu mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak, dan berkarakter. Salah satu tugas guru adalah menterjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bag peserta didik.

 

          Jadi, kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional adalah guru yang piawai dalam melaksanakan profesinya.Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.

 

2.3 Guru Profesional

Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi disini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Dengan kata lain, pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru deengan kemampuan maksimal. Guru yang profesonal adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.

Menurut Surya dalam Kunandar (2007:47), guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya.

Guru yang profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya, dan menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai mahluk beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dan moral.

Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk menegnal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tak mungkin kerasan dan bangga menjadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru profesional.

 

SIMPULAN

Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Membahas mengenai profesionalisme guru berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki oleh sorang guru. Dan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru ada empat macam yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan di Indonesia, maka peningkatan empat kompetensi guru tersebut sangat penting. Dengan meningkatkan empat kompetensi guru tersebut maka para guru di Indonesia akan dapat menjadi guru yang profesional karena sebagaimana yang telah dibahas di atas bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran sehingga mutu kinerjanya akan meningkat dan diikuti oleh meningkatnya mutu output sekolah-sekolah di Indonesia. Dengan begitu, diharapkan Indonesia akan menjadi negara yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi dan Sumber Daya Manusianya pun mempunyai kualitas intelektual yang tinggi dan tidak hanya itu, tetapi didukung oleh integritas moral yang kuat sehingga Sumber Daya Manusia Indonesia adalah Sumber Daya Manusia yang seimbang yaitu manusia yang matang dalam berpikir dan stabil dalam emosi sehingga manusia-manusia Indonesia mampu menjunjung tinggi harkat dan martabat negaranya.

 

SARAN

  1. Guru diharapkan mampu untuk memiliki, mengembangkan serta meningkatkan

     kompetensi yang semestinya dimiliki oleh seorang guru.

  1. Guru diharapkan mampu menjadi guru profesional sehingga guru dapat menjalankan

     tugas dan perannya dengan baik sehingga kualitas pendidikan di Indonesia dapat

     meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

 

Kunandar.2007.Guru Profesional Implementsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

         (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.

 

Majid, Abdul. (2005). Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar

       Kompetensi Guru. Bandung:  PT Remaja Rosdakarya.

 

Masruroh, Siti.2009.Kompetensi Guru, (Online),

        (http://sitimasruroh.blogspot.com/2009/11/kompetensi-guru.html, diakses 8 April

        2011)

 

Mulyasa, E.2008.Standar Kompetensi Dan Sertifikasi Guru.Bandung:PT Remaja

         Rosdakarya.

 

Sudrajat, Akhmad.2011.Kompetensi Guru dan Kepala Sekolah, (Online),

        (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/21/kompetensi-guru-dan-peran

         kepala-sekolah-2/, diakses 8 April 2011)

 

Usman, Moh. Uzer.2006.Menjadi Guru Profesional.Bandung:Rosda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s