PERENCANAAN PENIDIDIKAN

KURIKULUM YANG MENCERDASKAN DAN MENGEDEPANKAN IMPLEMENTASI SKILL

 

Dengan adanya peralihan dan perkembangan kurikulum dari masa ke masa dapat dilihat bahwa Kurikulum sekarang memang jauh lebih baik dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Namun, efektivitas dari perubahan kurikulum tersebut belum terbukti. Dengan adanya perubahan kurikulum belum bisa menjadikan anak-anak bangsa yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena perubahan-perubahan kurikulum itu hanya berlandaskan bahwa kurikulum itu sangat baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa tanpa melihat pada sisi kesiapan guru dan peserta didik. Dengan berbagai perubahan kurikulum itu, tidak sedikit guru dan peserta didik di Indonesia ini yang tidak memahami tentang kurikulum yang menjadi dasar pembelajaran yang mereka laksanakan. Mereka hanya sekedar melaksanakan kurikulum yang berlaku tanpa memahami isi dari kurikulum tersebut.

Contoh sederhana saja yaitu KTSP. KTSP membuka ruang partisipasi kreatif guru dan pengelola sekolah dalam penjabaran rencana, metode, alat-alat pengajaran. Standar isi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar kurikulum masih ditentukan pemerntah pusat, tapi kontekstualisasi detailnya diserahkan kepada pengelola sekolah dan guru. Dengan diversifikasi ini, pengelola sekolah dan guru dapat secara kreatif dan kontekstual mempraktikkan konsepsi ideal mereka tentang proses pembelajaran. Yang menarik diamati, KTSP menekankan pentingnya partisipasi kreatif guru dan proses belajar yang berpusat ada siswa. Guru ditantang menciptakan suasana belajar yang kontekstual dengan lingkungan alam-sosial peserta didik. Selain itu juga ditekankan suasana belajar harus menyenangkan. Proses belajar harus interaktif, inspiratif, menantang, dan memotivasi peserta didik, memberi ruang bagi prakarsa, kretivitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, fisik, dan perkembangna psikologis peserta didik. Masalahnya adalah saat KTSP itu diluncuran kesiapan guru diragukan. Msih banyak guru yang bingung harus berbuiat apa saat KTSP diterapkan. Teorinya memang mudah, tapi praktiknya sangat sulit, (Mangunwijaya, 2007:59).

Masalah-masalah kurikulum tersebut dapat digambarkan melaui kondisi lembaga pendidikan Indonesia pada umumnya dari SD bahkan sampai tingkat universitas. Karena kesiapan guru yang kurang dalam menghadapi berbagai perubahan kurikulum yang diterapkan di Indonesia, sekolah hanya menjadi tempat peserta didik untuk mendengar, mencatat, menghafal, dan latihan menjawab soal-soal ujian Hal inilah yang menyebabkan anak-anak bangsa kita menjadi konsumen teori-teori ilmu pengetahuan tanpa diikuti dengan skill untuk mengimplementasikannya di lingkungan masyarakat ataupun di lingkungan kerja.

Proses pendidikan di Indonesia yang pada umumnya berlangsung dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00 tidak akan dapat mengubah karakteristik manusia Indonesia menjadi yang beretos kerja tinggi, yang berdisiplin, yang bermoral, yang bertanggung jawab, yang menghormati tegaknya hukum, dan yang mampu menguasai dan menerapkan IPTEK serta bersikap demokratis. Tidak lain karena masyarakat di luar sekolah baik di rumah, di jalanan, maupun di media massa, terutama di media elektronik belum dapat menjadi tempat yang dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya karakteristik manusia Indonesia yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi.

Untuk itu, saya ingin berinovasi merencanakan sistem pendidikan nasional yang benar-benar bisa mencerdaskan anak-anak bangsa dan mempersiapkan anak-anak bangsa itu untuk dapat mengimplementasikan di lingkungan masyarakat dan lingkungan kerja tentang apa yang ia dapatkan di sekolah atau universitas. Kurikulum yang saya canangkan adalah KURIKULUM YANG MENCERDASKAN DAN MENGEDEPANKAN IMPLEMENTASI SKILL. Pembelajaran di sekolah khususnya untuk semua mata pelajaran harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Dan cara pembelajarannya adalah 50% teori serta 50% praktik. Dengan keseimbangan antara teori dan praktik maka peserta didik akan mengalami secara langsung dan dapat mengimplementasikan secara langsung teori-teori yang mereka dapatkan. Praktik dilapangan ini bertujuan untuk melatih diri masing-masing peserta didik untuk mengimplementasikan seluruh kemampuannnya berdasarkan teori yang dia dapatkan sehingga ketika dia sebagai hasil (output) dari proses pendidikan, dia sudah menjadi seseorang yang siap menghadapi segala situasi di lapangan. Hal tentang praktik inilah yang saya garis bawahi karena pada kenyataannya banyak peserta didik yang menguasai teori, namun lemah dalam praktiknya sehingga ketika sudah lulus, ia sulit untuk mencari kerja dan menerapkan semua teori yang ia kuasai.

Idealnya, kurikulum itu juga mampu memprediksi kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Kurikulum adalah suatu hal yang bersifat dinamis. Menyesuaikan kebutuhan dan tren zaman. Hanya, kurikulum itu hendaknya tidaklah sekedar menitikberatkan aspek kognitif, apalagi yang sifatnya hanya ingatan dan komprehensi (comprehension) semata. Murid tidak diuji bagaimana memahamidan harusnya yang lebih ditekankan adalah bagaimana caranya agar mereka bisa mengembangkan nilai-nilai itu dalam praktik.

Di masa-masa mendatang, aspek softskill jauh dibutuhkan daripada kemampuan teknis dan kecerdasan SDM. Softskill yang berupa penguasaaan komunikasi, watak baik, dan kecerdasan emosional, menjadi hal unik yang membedakan dengan SDM lainnya. Untuk itu saya sangat mengedepankan sistem dimana siswa sejak dini diajarkan softskill dan entrepenurship karena bentuk pekerjaan di masa depan (10-15 tahun ke depan) bergantung pada kondisi ekonomi bangsa, pasar SDM akan makin berkurang akibat kemajuan teknologi.

Dengan kurikulum yang memberlakukan 50% teori dan 50% praktek serta menyeimbangkan kemampuan teori dan aspek softkill maka kemungkinan untuk menjadikan anak-anak bangsa memiliki kualitas pendidikan yang tinggi merupakan sebuah harapan, mimpi, serta visi yang besar bagi Indonesia. Karena dengan diberlakukannya sistem ini yang juga harus mempertimbangkan segala unsur atau komponen pendidikan Indonesia dapat dipastikan 10 tahun yang akan datang prestasi Indonesia akan melaju pesat di kancah Internasonal. Tidak hanya pendidikan, namun di bidang-bidang lainnya seperti ekonomi ataupun teknologi. Dengan adanya kualitas pendidikan anak bangsa yang tinggi, maka akan bisa menjadikan berkembangnya bidang-bidanng lain di Indonesia.

Dengan apa yang saya rencanakan ini, saya sangat berharap bahwa 10 tahun yang akan datang kurikulum model seperti ini dapat diterapkan sebagai salah satu solusi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan paparan rencana saya di atas, memang belum sepenuhnya menjelaskan tentang bagaimaan cara atau metode dalam praktiknya sebagai kurikulum yang diberlakukan di Indonesia karena berbagai kekurangan pengetahuan yang saya miliki. Disini, saya hanya memaparkan gagasan-gagasan mengenai sistem Pendidikan nasional 10 tahun yang akan datang dengan harapan gagasan ini bisa merubah wajah pendidikan Indonesia, dan bisa meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan di Indonesia yaitu dengan mengedepankan kecerdasan dan sofskill demi kesiapan peserta didik menghadapi lingkungan luar seperti lingkungan masyarakat dan dunia kerja.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s