BERBAGAI TEORI DAN GAYA KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi untuk mengarahkan orang lain agar mengerahkan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan bersama. Dalam menjalankan suatu kepemimpinan, pastinya seorang pemimpin dihadapkan pada situasi-situasi tertentu yang mendesak pemimpin untuk dapat mengambil keputusan serta berperilaku secara tepat agar tujuan bersama dari kelompok atau organisasi yang dipimpin dapat tercapai. Untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik maka seorang pemimpin memerlukan berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Di bawah ini terdapat berbagai gaya kepemimpinan yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menjalankan kepemimpinan yang efektif.

MANAGERIAL GRID
Salah satu usaha yang terkenal dalam rangka mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam manajemen adalah managerial grid. Dalam pendekatan managerial grid ini, manajer berhubungan dengan dua hal yaitu produksi dan bawahan. Sebagaimana dikehendaki Blake dan Mouton (Thoha, 2012:53) managerial grid menekankan bagaimana manajer memikirkan produksi dan hubungan manajer serta memikirkan produksi dan hubungan kerja dengan manusianya. Menurut Blake dan Mouton ada empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrem, sedangkan lainnya hanya satu gaya yang dikatakan berada di tengah-tengah gaya ekstrem tersebut.

ManagerialGrid
• Pada grid 1.1
Manajer sedikit sekali usahanya untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dengannya dan produksi yang seharusnya dihasilkan oleh organisasinya. Dalam menjalankan tugas manajer dalam grid ini menganggap dirinya sebagai perantara yang hanya mengkomunikasikan informasi dari atasan kepada bawahan.
• Pada Grid 1.9
Gaya kepemimpinan dari manajer ini ialah mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk selalu memikikan orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Tetapi pemikirannya mengenai produksi rendah.
• Pada Grid 9.1
Manajer yang otokratis dimana manajer hanya mau memikirkan tentang usaha peningkatan efisiensi pelaksanaan kerja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya.
• Pada Grid 9.9
Manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan baik produksi maupun orang-orang yang bekerja dengannya.
• Pada Grid 5.5
Manajer mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Dia berusaha mencoba menciptakan dan membina moral orang-orang yang dipimpinnya, dan produksi dalam tingkat memadai serta tidak terlampau mencolok.

Dari 5 gaya pada managerial grid, gaya pada grid 9.9 yang merupakan gaya paling efektif untuk diterapkan dalam menjalankan kepemimpinan.

TIGA DIMENSI REDDIN
Reddin melihat gaya kepemimpinan dari efektivitas dan melihat dari dua hal yang lain yaitu hubungan pemimpin dengan tugas dan hubungan kerja. Model yang dibangun Reddin merupakan gaya kepemimpinan yang cocok dan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungannya.
Pada tiga dimensi reddin ini (Thoha, 2012:57), terdapat empat gaya yang efektif yang di antaranya adalah:
• Ekekutif
Gaya ini banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini disebut sebagai motivator yang baik, mau menetapkan standar kerja yang tinggi, berkehendak mengenal perbedaan di antara individu, dan berkeinginan menggunakan kerja tim dalam manajemen.
• Pecinta pengembangan
Gaya ini meberikan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian minimum terhadap tugas-tugas pekerjaan. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan yang implicit terhadap orang-orang yang bekerja dalam organisasinya, dan sangat memperhatikan pengembangan mereka sebagai seorang individu.
• Otokrtais yang baik
Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas, dan perhatian yang minimum terhadap hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini mengetahui secara tepat apa yang ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang diinginkan tersebut tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain.
• Birokrat
Gaya ini memberikan perhatian yang minimum terhadap baik tugas maupun hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunkan gaya ini sangat tertarik pada peraturan-peraturan dan menginginkan peraturan tersebut dipelihara, serta melakukan kontrol situasi secara teliti.

Sedangkan empat gaya yang tidak efektif diantaranya adalah:
• Pecinta kompromi
Gaya ini memberikan perhatian yang besar pada tugas dan hubungan kerja dalam situasi yang menekankan pada kompromi. Manajer yang bergaya seperti itu merupakan pembuat keputusan yang tidak bagus karena banyak tekanan yang mempengaruhinya.
• Missionary
Gaya ini memberikan penekanan yang maksimal pada orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dengan perilaku yang tidak sesuai. Manajer semacam ini hanya menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri.
• Otokrat
Gaya ini membeikan perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu perilaku yang tidak sesuai. Manajer seperti ini tidak mempunyai kepercayaan pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada jenis pekerjaan yang segera selesai.
• Lari dari tugas
Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan kerja. Dalam situasi tertentu, gaya ini tidak begitu terpuji karena manajer seperti ini menunjukkan sikap pasif dan tidak mau ikut capur secara aktif dan positif.

MODEL KONTINGENSI FIEDLER
Fiedler mengembangkan suatu model dalam kepemimpinn yang dinamakan dengan Model Kontingensi Kepemimpinan yang Efektif (A Contingency Model of Leadership Effectiveness). Model ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Sebagaimana menurut Fiedler (Thoha, 2012:37-38) situasi yang menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris adalah sebagai berikut:
• Hubungan pemimpin dengan anggota
Hal ini merupakan variabel yang paling penting dalam menentukan situasi yangb menyenangkan.
• Derajat dari struktur tugas
Dimensi ini merupakan masukan yang amat penting kedua dalam menentukan situaso yang menyenangkan.
• Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal.
Dimensi ini merupakan dimensi yang amat penting ketiga di dalam situasi yang menyenangkan.
Suatu situasi akan dapat menyenangkan pemimpin jika ketiga dimensi di atas mempunyai derajat yang tinggi. Dengan kata lain, suatu situasi akan meyenangkan jika:
• Pemimpin diterima oleh para pengikunya.
• Tugas-tugas dan semua yang berhubungan dengannya ditentukan secara jelas.
• Penggunaan otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pada model kontingensi Fiedler ini, situasi yang menyenangkan dan gaya kepemimpinan yang diterapkan sangat mempengaruhi efektivitas kerja.

 

DAFTAR PUSTAKA

Thoha, Miftah. 2012. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta:Rajawali Pers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s